oleh

Hakikat Bencana Alam, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso

Hakikat Bencana Alam, Catatan Kecil Pojok Warung Kopi Ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Diibaratkan, bangsa ini hidup di atas punggung Naga dan punggung Macan, dimana alamnya selalu menggeliat, kaya akan Gunung berapi, gempa bumi, dan gerakan tanah, serta berpotensi pada banjir bandang dan kekeringan yang sangat. Ini mengindikasikan kelemahan utama negeri kita yang harus selalu dihadapi, yaitu rawan bencana dan juga rawan konflik.

Dan hakikat bencana adalah “angreresik ingkang buwana,” pembersihan massal tapi masih ada yang tersisa, bahasa kerennya seleksi alam, yang tersisa adalah yang terpilih untuk tetap hidup dan melanjutkan kehidupan. “Tiada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab Lauhul Mahfuzh.” (QS. Al Hadiit, 57 : 22).

Bukan karena kejahatan manusia sehingga Tuhan menghukum dengan bencana alam. Jika demikian logikanya, maka salah apa bayi yang tanpa dosa tewas, dan salah apa orang-orang papa yang tidak punya? Semua adalah siklus kehidupan yang biasa. Siklus yang disebut DRIYA, semua direcycle, dan ditata. Dengan begitu akan banyak kebaikan dan keberkahan setelahnya, insyaallah.

Sekali lagi, bencana alam itu bukanlah cobaan atau azab dari Tuhan, karena Tuhan marah-marah dan kesal pada polah tingkah manusia, tetapi sebagai sumber untuk menyegarkan, memperkuat, dan menemukan kembali sikap-sikap kepedulian kita pada kemanusiaan. Tuhan bukanlah pemberang, pemarah atau mudah baper dan lalu murka.

Dia Rabbun, ibarat Ibu yang penuh kasih sayang, mengayomi, memfasilitasi, yang selalu menjaga putra-putrinya, memberikan pendidikan dan pengetahuan, serta mengajarkan manusia akan pandangan estetik dalam melihat semua fenomena alam. Dia Malikun, raja yang memberi aturan, perintah dan larangan. Lebih keras lagi, Dia juga Illahun, manusia disuruh tunduk, menyembah sampai merangkak-rangkak dan mendlosor-ndlosor kepadaNya.
(QS. An-Nas, 114: 1 – 3)

Lihat saja, setelah terjadi bencana alam, maka munculah sikap-sikap keindahan kemanusiaan, rasa senasib sepenanggungan, partisipasi dan kontribusi sosial, ingin membantu bagaimanapun wujudnya atau dengan kata lain setiap bencana adalah alat refleksi kemanusiaan yang penting.

Sebagaimana kita tahu bahwa manusia sejak awal penciptaannya sudah diberikan tugas sebagai khalifah di bumi, untuk selalu memayu hayuning bawana, memelihara dan melestarikan kehidupan kesimbangan alam (manusia bagian integral dari alam), dan hidup untuk menjadi saksi atas kekuatan yang sangat dahsyat, penyaksi keMaha-anNya, Tan Hana Dharma Mangrwa Sura Dira Jaya Ningrat Lebur Dening Pangastuti, sehingga karena itu bisa berusaha memperindah dan mengindahkan kehidupan yang penuh derita ini. Memayu Hayuning Bawana, berharap bisa memberikan dan mendapatkan pertolongan dari semua yang memiliki kepribadian dan budi pekerti luhur.

Dalam bahasa lainnya, bencana adalah akibat dari Shakti (situasi yang secara tiba-tiba mak bedunduk mengubah keadaan), lalu menumbuhkan Sidhi (kemuliaan, keindahan sifat-sifat kemanusiaan) yang kemudian melahirkan Budhi pekerti (perilaku/sikap kemanusiaan). Jika Budhi itu menggerakan manusia untuk meringankan penderitaan dan beban sesama, maka hal tersebut menjadi BUDHI DAYA alias BUDAYA.

Ini hikmah kebijaksanaan yang bisa diambil dari peristiwa bencana. “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”(QS. Asy-Syarh, 94: 5 – 6).

Maka ada baiknya kita kembali ke kalimat, “Inna lillahi wa inna illaihi rajiun” yang merupakan sikap kepasrahan. Bertawakal (sebagai sarana) untuk bersandar kepadaNya.
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan; “sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali.”(QS : Al Baqarah, 2 : 156)

Loading...

Baca Juga