oleh

Santri, Ulama dan Negarawan, Sebuah Opini Tubagus Soleh

Santri, Ulama dan Negarawan. Oleh: Tubagus soleh, Ketum Babad Banten Nasional

Santri merupakan asset bangsa yang paling original. Sejak zaman pra kemerdekaan, kaum santri selalu menjadi tulang punggung negara.

Ketika NKRI masih berbentuk kerajaan dan kesultanan, kaum santri merupakan kelompok elit yang selalu terjaga dan menjaga demi keutuhan dan kebesaran sebuah kerajaan atau kesultanan.

Tidak Jarang, elit-elit penguasa selalu datang dan memohon doa restu serta dukungan dari kaum santri. Kedatangan para elit bisa sekedar untuk pencitraan diri, penguatan brand atau juga untuk melanggengkan kekuasaan.

Di zaman kemerdekaan, peran kaum santri sangat menentukan dalam menjaga eksistensi NKRI.

Saya tidak mampu membayangkan, seandainya ulama Hadratussyekh Hasyim Asy’ari tidak mengeluarkan resolusi Jihad. Untuk mempertahankan Republik Indonesia yang baru berusia seumur jagung.

Bung Karno, Panglima Besar Sudirman dan Kaum Santri berjibaku mati-matian hingga tetes darah terakhir untuk mempertahankan Republik ini. Hingga pertempuran 10 November menjadi monumen hidup yang menjadi bukti nyata sebuah komitmen yang tulus ikhlas pengorbanan kaum santri : Rela Berkorban Harta dan jiwa demi NKRI.

Baca Juga :  Jokowi Dihina, Jokowi Dimaki, Jokowi yang Terpilih

Komitmen inilah hingga saat ini terus bergelora. Meskipun ombak politik tidak selalu membuat kapal kaum santri berjalan mulus.

Peminggiran peran kaum santri di era orde baru dalam blantika politik bangsa, memarginalkan ekonomi kaum santri dari kueh pembangunan bangsa serta pengtipex-an sejarah kaum santri dalam buku perjuangan Bangsa merupakan catatan hitam yang tidak terlupakan.

Sebagai Bangsa besar, Indonesia harus mencatat secara adil peran perjuangan kaum santri. Kaum santri yang diidentikan dengan Nahdhatul Ulama (NU) merupakan owner Berdirinya Republik Indonesia.

Sangat rasional bila NU selalu menjadi garda terdepan dalam menjaga keutuhan dan ekistensi NKRI. Semangat ini yang kemudian diturunkan dalam jargon NKRI harga Mati. Artinya siapapun yang mencoba coba mengganti sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila bisa dipastikan akan mendapat perlawanan dari kaum santri secara keseluruhan.

Tentang sikap penolakan kaum santri terhadap sistem Khilafah ( ideologi import belahan arab ) dijelaskan dengan sangat simple oleh KH Makruf Amin. Bahwa Indonesia berdiri dengan kesepakatan. Siapapun yang melanggar kesepakan berbangsa dan bernegara dengan sendirinya akan tertolak. Bukan di tolak. Republik Indonesia berdiri atas kesepakatan.

Baca Juga :  Bandul Politik Dunia Bergerak Kemana: Ke Timur Atau Barat?
Jadi siapapun yang memaksa untuk merusak kesepakan termasuk memaksakan Ideologi Khilafah sebagai sistem negara dengan sendirinya tertolak.

Disinilah kita harus akui komitmen, Integritas serta Tanggungjawab kaum santri dalam menjaga kesepakatan berbangsa dan bernegara. Mereka tidak digajih, mereka tidak dianggarkan dalam APBN dan APBD namun bergerak terus demi menjaga keutuhan NkRI. Bukankah ini sesuatu yang dahsyat?

Bila di era Pemerintahan Jokowi JK, peran kaum santri mendapat pengakuan dan perhatian serius dengan ditetapkannya Hari Santri Nasional oleh pemerintah. Ini merupakan bentuk pengakuan yang sudah seharusnya dan semestinya.

Memperingati Hari Santri pada subtansinya merupakan upaya serius pemerintah agar ruh Jihad Bangsa Indonesia terus hidup dan terjaga terutama dikalangan Kaum Santri.

Saya kira pemerintah sangat sadar, di era milineal digital ini penguatan benteng ideologi harus diperkokoh. Keruntuhan negara diawali dari peperangan ide. Contoh nyata bubarnya Uni Sovyet dan Yugoslavia disebabkan perang ide antara komunisme dengan demokrasi. Bila tidak diperkuat Ideologi Bangsa sejak dini kita tinggal menghitung hari akan melihat album kenangan tentang negara yang bernama Indonesia.

Baca Juga :  Kisruh PPDB, Negara Gagal Penuhi Pendidikan. Opini Ninik Purwanti

Jujur harus diakui, kini kaum santri bisa bernapas lega. Pemerintah memberikan ruang yang semestinya untuk berkiprah memberikan karya terbaiknya buat bangsa dan negara. Sebagaimana para pendahulu kaum santri telah memberikan yang terbaik bagi Republik dengan pengorbanan harta dan jiwanya.

Masa masa pahit di era orde baru yang telah lalu, anggap saja sebagai fase gemblengan jiwa kaum santri yang ternyata sangat bermanfaat di era sekarang. Ibarat ungkapan RA Kartini: Habis Gelap Terbitlah Terang.

Sudah jelas posisi santri: dari Santri menjadi Ulama kemudian berkiprah sebagai Negarawan.

Teruslah berkiprah dengan karya yang terbaik. Umat dan Bangsa menungguhmu. Biar hancur binasa, asal Bangsa Indonesia capai kemenangannya. Itu komitmen sang santri.

Loading...

Baca Juga