oleh

Jangan Ciderai Demokrasi Kita, Sebuah Opini Tubagus Soleh

Jangan Ciderai Demokrasi Kita. Oleh Tubagus Soleh, Ketua Badan Ideologi dan Kaderisasi PP GPI.

Bangsa Indonesia sudah membuktikan kepada dunia sebagai negara demokrasi terbesar ke empat. Pemilu dan Pilpres yang diadakan serentak disambut rakyat dengan suka cita. Tanpa ada gesekan dan otot ototan, semuanya berjalan dengan penuh suka cita. Saya sendiri menunaikan hak konstitusi sebagai warga negara bersama keluarga dengan penuh cinta. Meskipun diantara tetangga saya memiliki perbedaan pilihan tapi semuanya berjalan normal dan saling senyum.

Begitulah berdemokrasi. Demokrasi memaksa siapa saja untuk bersikap dewasa dan menghargai perbedaan yang ada. Yang paling penting dari demokrasi adalah sikap siap kalah dan siap menang. Siapapun boleh menang, siapapun bisa kalah. Inilah esensi dari demokrasi.

Demokrasi yang berkembang dalam sistem kehidupan dengan baik dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ketika setiap warga bangsa saling menghargai dan saling menghormati. Demokrasi menandaskan tidak ada yang mayoritas dan minoritas. Yang ada siapa yang dipilih oleh rakyat dengan suara terbanyak.

Baca Juga :  Saya Sarankan Neno dan Mardani, Galang Aksi Massa di Gedung DPR-MPR RI

Penentuan siapa Pemimpin dengan cara demokrasi, sang pemimpin terpilih memang tidak memiliki kekuasaan yang absolut. Karena sistem demokrasi mengharuskan adanya kekuatan oposisional yang mengawasi jalannya pemerintahan yang dikendalikan dan dijalankan oleh pemimpin yang memenangi kontestasi.

Tanpa ada kekuatan oposisional yang kuat, rezim yang terpilih bisa saja menjelma menjadi rezim despotik bertangan besi dalam menjalankan pemerintahan. Kemakmuran dan keadilan sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang diperjuangan oleh segenap rakyat bangsa tidak akan bisa terwujud. Malah bisa jadi berubah menjadi kehidupan yang menakutkan. Disebabkan rezim yang berkuasa tidak lagi memberikan ruang kritik konstruktif kepada rakyat.

Banyak kasus rezim berkuasa yang berawal dari gerakan Kekuatan Rakyat justru kemudian berubah wajah menjadi rezim otoriter. Kebebasan berpendapat dan kritik yang membangun sebagai bentuk partisipasi rakyat terhadap pembangunan politik bangsa dipandang sebagai bentuk dan sikap oposisional terhadap pemerintah. Hal ini terjadi karena sosok yang pemimpin yang mendapat mandat dari rakyat tidaklah berjiwa demokratis. Atau berasal bukan dari rakyat dan tidak memiliki jiwa merakyat.

Asal usul dan track record Sang pemimpin dalam sistem demokrasi haruslah terbuka sejak awal tanpa ada yang perlu ditutupi. Karena ini menjadi keharusan bagi rakyat untuk mengetahui sang pemimpinnya. Tanpa keterbukaan sulit bagi rakyat untuk memiliki Pemimpin yang mengerti napas derita kehidupan rakyat.

Baca Juga :  Pilpres, Strategi Hoaks, Angin Puting Beliung dan Angin Duduk

Bangsa kita memiliki pengalaman sejarah yang berharga pada tahun 1966 dan 1998. Ketika kekuatan rakyat dan kaum terpelajar bergerak tidak ada satupun kekuatan yang bisa menahan gelombang kekuatannya. Deburannya bisa merobohkan kekuatan siapapun yang berkuasa.

Tapi harus diingat, rakyat dan kaum terpelajarnya bergerak ketika rasa ketidakadilan sosial begitu nyata terlihat dan menjadi bagian yang diciptakan serta dipelihara oleh rezim yang berkuasa. Atau ketika sistem demokrasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Hal ini sangat berbeda ketika di zaman reformasi. Demokrasi sudah berjalan sesuai dengan relnya. Bahkan melampaui batas batas demokrasi itu sendiri. Kebebasan berbicara, mengkritik bahkan mencaci bukanlah menjadi barang tabu di zaman sekarang. Bangsa Indonesia menemukan ruang kebebasan terbaik dalam berdemokrasi dibandingkan dengan negara jiran kita.

Baca Juga :  GPI Desak Presiden Ganti Menteri Agama Pada Reshuffle Kabinet
Momentum Pemilu dan Pilpres di tahun 2019 seharus menjadi momentum bagi semua komponen anak bangsa untuk memperkuat dan menyempurnakan Demokrasi Kita yang sudah susah payah kita bangun. Pilpres dan Pileg yang kemarin sudah kita laksanakan dengan penuh suka cita dan bergembira patut kita syukuri. Karena hal ini menandakan bahwa rakyat Indonesia sudah sangat dewasa dalam mensikapi setiap perbedaan pilihan.

Kita sangat menyayangkan bila ada kelompok yang ikut kontestasi tidak siap kalah dan grasa grusu dengan memberikan pernyataan pernyataan yang bisa mencederai demokrasi sendiri. Kita semua sudah sepakat bahwa demokrasi memiliki perangkat dan petugasnya. Biarlah kita tunggu petugas dan perangkatnya bekerja dengan tenang tanpa ada tekanan atau ancaman dari pihak manapun.

Karena moment indah demokrasi itu ketika kita menghormati dan menghargai pilihan rakyat kita sendiri.

Loading...

Baca Juga