oleh

Kalah di Banten; KH Makruf Amin Kunci Kemenangan Jokowi

Kalah di Banten; KH Makruf Amin Kunci Kemenangan Jokowi. Oleh: KH Imaduddin Utsman, Waketum Babad Banten Nasional.

Martin van Bruienessen, seorang antropolog asal Belanda, dalam penelitiannya mengatakan ada tiga daerah di Indonesia yang masyarakatnya memiliki ghiroh (baca: fanatik) keislaman yang lebih menonjol dibanding daerah lainnya di Indonesia, tiga daerah itu adalah Banten, Aceh dan Sumatera Barat.

Agaknya penelitian Martin itu, ketika kita melihat hasil quick count Pilpres 2019 tanggal 17 April kemarin, sangat tepat. Politik identitas keislaman yang ditonjolkan oleh kubu Prabowo-Sandi disambut hangat oleh tiga daerah tersebut.

Aceh yang pada pemilu 2014 lalu Jokowi memperoleh 45,61%, pada pemilu 2019 ini anjlok drastis dengan hanya memperoleh 16,12%. Sementara Sumatra Barat pada pemilu 2014 Jokowi memperoleh 23,08%, pada pemilu 2019 ini turun menjadi 14.95%.

Banten pada pemilu 2014 lalu Jokowi memperoleh suara 42,90%, pada pemilu 2019 ini turun 5% menjadi 37,97%.

Dari ketiga daerah yang disebut Martin van Brunessen memiliki fanatis keagamaan yang tinggi. Banten relatif memiliki daya imunitas cukup kuat dalam melawan derasnya sentimen politik identitas pendukung kubu Prabowo. Hal ini bisa dilihat dari penurunan yang hanya 5% dari pemilu sebelumnya. Berbanding terbalik dengan Aceh yang menurun sangat tajam mencapai 29%. Sumatra Barat daerah ini rupanya cukup terpengaruh serius juga dengan sentiment agama itu. Sehingga perolehan Jokowi turun relatif tajam mencapai 9%.

Lalu faktor apakah yang membuat Banten bisa bertahan dari gempuran politik identitas kubu 02 ini?

Presiden Jokowi lah faktor yang membuat Banten, kemudian bisa di qias kepada beberapa daerah sekitarnya yang memiliki irisan yang sama. Bisa bertahan dari dahsyatnya serangan politik identitas kepadanya. Kelihaian Jokowi dalam memilih Kiayi Makruf Amin (KMA) sebagai wakilnya adalah kunci kemenangan Jokowi pada pilpres kali ini.

Suara Jateng dan Jatim yang merupakan lumbung suara Jokowi pada pilpres 2014 terselamatkan karena faktor ke-NU-an KMA, bahkan suara Jokowi bertambah signifikan di Jatim. Pada pemilu 2014 di Jatim Jokowi memperoleh 53,17% suara, sedang pada pemilu 2019 ini naik menjadi 66,14%. Di Jateng pada pemilu 2014 suara Jokowi 66,65% sedang di pemilu 2019 ini naik mencapai 77,43%.

Banten yang ke-NU-anya tidak seperti di Jatim dan Jateng. Faktor yang membuatnya bisa bertahan dari serangan politik identitas agama dari kubu 02 adalah politik identitas yang lain. Dimana KMA merupakan asli dari daerah Banten dan ketokohannya sebagai ulama yang diakui keilmuannya.

Pada hakikatnya, walau secara prosentase suara Jokowi turun 5%, namun bila dibanding Aceh yang secara antropologis memiliki basis historis yang sama dilihat dari fanatik keislaman masyarakatnya, maka KMA sebenarnya telah andil menambah suara 24% untuk Jokowi. Angka ini dihitung berdasarkan turunnya suara Jokowi di Aceh sebanyak 29% dikurangi turunnya suara Jokowi di Banten sebanyak 5%.

Hal yang sama dapat diqiyas dengan daerah Jawa Barat di mana KMA juga diakui sebagai bagian dari trah bangsawan Pajajaran, Sumedang dan Cirebon. Di tambah, walau tidak sedahsyat sejarah revivalisme kaum santri di Banten pada abad 19, Jawa Barat juga merupakan daerah yang secara budaya tidak jauh berbeda dengan Banten. Sosok KMA, tentu mempengaruhi para pemilih di Jawa Barat untuk menentukan pilihannya di tengah dahsyatnya serangan politik identitas untuk kubu Jokowi.

Tentunya analisa penulis ini tidak menapikan adanya faktor lain dari daerah yang penulis analisa, seperti kemampuan tim Jokowi dalam menawarkan program dan lain sebagainya. Penulis hanya ingin membatasi cara baca dari faktor keunikan pilpres 2019 kali ini dibanding pemilu sebelumnya, di mana dalam pemilu ini politik identitas begitu kental terasa bahkan diberbagai tempat sampai kepada titik di mana pilihan capres menjadi demarkasi kesalehan. Wallahu alam.

Loading...

Baca Juga