oleh

Ramalan Negara Bubar Versus Menjadi Negara Terbesar ke-7 di Dunia

Ramalan Negara Bubar Versus Menjadi Negara Terbesar ke-7 Di Dunia, Oleh: Malika Dwi Ana

Sepertinya penyelenggaraan negara memang didesign agar: terbuka peluang modal (invasi) asing masuk dengan menyiapkaan infrastruktur sebagai fasilitas penetrasi mereka untuk mengeksploitasi SDA, lahan dan laut seluas-luasnya di seluruh pelosok perifer negeri ini.

Ramalan bahwa Indonesia akan punah di tahun 2030 dan response lawannya (the ruling power) yang meramal sebaliknya (Jokowi bahkan meramal pada tahun 2030 Indonesia jadi negara tujuh terbesar dunia), mana yang benar?

Semestinya jika kita menghadapi masalah, berpikirnya itu the worse saja, yang terburuk. Karena dengan berpikir terburuknya, kita jadi bisa menyikapi keadaan terburuk itu dengan pikiran lebih tenang dan lalu berpikir soal solusinya, dengan memilih the worse maka rancangan kita ke depan akan antisipatif terhadap kemungkinan terburuk dimasa depan.

Bukan sebaliknya, berpikir bahwa kita akan sangat baik-baik saja meskipun kita harus selalu optimis. Tetapi berpikiran bahwa segalanya akan baik-baik saja akan melenakan kepekaan dan kewaspadaan. Saat ditampar kenyataan, kita terkaget-kaget dan tidak siap. Akhirnya, kalau orang Jawa bilang gedandapan, mengambil langkah pun ngawur.

Faktanya:
1). Minyak, hutan dan SDA lain sudah menipis
2). Angka kelahiran bayi (program Keluarga Berencana) tak terukur
3). Realita sakitnya negeri ini kian nampak, jika melihat bahwa negara RI adalah pasar narkoba terbesar dunia, terbukti dengan omzet trafficking di negara RI kompetisi dengan narkoba,
4). Kekurangan gizi terburuk di dunia (37% balita stunting)
5). Ketidakadilan diseluruh aspek, index: edukasi, gizi, corruption perception semua mencemaskan.

Dengan cara terbodohpun kita tidak melihat titik terang di ujung lorong gelap ini. Mungkin Jokowi dan tim menteri-menterinya punya kiat (semoga) untuk mengangkat negara RI jadi 7 (tujuh) negara terbesar di dunia, yang jelas statement soal itu bikin saya ngeri: ramalan Jokowi (akan bisa terjadi) dalam ukuran GDP artinya negara RI akan termasuk 7 (tujuh) negara dengan GDP terbesar di dunia. Hal itu memungkinkan JIKA pemanfaatan seluruh SDA dan industrialisasi wilayah agro, laut dan lain-lain diakselerasi secara habis-habisan. Pertanyaannya adalah; “mungkinkah itu?”

Bukankan upaya itu perlu konsep, tahu bagaimana (know how), network dan kapital yang tak sedikit. Dan sepertinya hanya dipunyai oleh pihak Asing, kalaupun dipunyai pihak Indonesia: itu hanya dipunyai oleh beberapa gelintir taipan WNI Cina. Pun itu hanya akan mungkin terjadi, jika akselerasi itu dilakukan oleh pihak Asing dan tentunya sebesar-besarnya untuk kepentingan mereka.

Lantas bagaimana nasib bangsa ini? Apa guna pembangunan infrastruktur yang habis-habisan ini?

Yang mungkin terjadi adalah; pihak asinglah yang akan diuntungkan dengan digebernya pembangunan infrastruktur yang ongkos pembangunannya dibebankan ke rakyat itu. Negara dalam kondisi defisit, hutang menumpuk, perekonomian seret dan subsidi banyak yang dicabut tapi pemerintah jor-joran membangun infrastruktur mahal dengan modal berhutang, yang ternyata tidak bisa dinikmati rakyatnya, seharusnya sih kita curiga.

Jangan-jangan memang semua program pembangunan yang sedang dijalankan ini memang bukan untuk kita. Karena kreditur tidak pernah bohong. Tidak ada sejarahnya rentenir jadi malaikat. Rentenir dimana-mana nyari untung. Bagaimana jika infrastruktur yang dibangun itu hanya akan memastikan bahwa penetrasi predator asing di sekujur tubuh negara RI akan bisa menjangkau sampai ke pelosok yang paling perifer dan mereka berproduksi di sana secara maksimal dan akan terjadilah seperti ramalan Jokowi bahwa 2030 GDP negara RI akan jadi terbesar ke7 di dunia, sementara realitasnya bangsa kita yang tadinya pemilih di wilayah itu hanya akan berdiri diluar proses dan menonton dari kejauhan seluruh aktifitas produksi pihak asing itu dengan mata nanar, tanpa berdaya apa-apa, ya ndlongop saja. Mereka takkan berani mendekat. Karena satpam-satpam pribumi dan asing akan centeng-centeng yang mahir kungfu dan memiliki detector, serta persenjataan canggih akan menghardik mereka dengan muka sangar dan mengerikan.

Ramalan the ruling class pasti akan selalu dicitrakan media mainstream sebagai “lebih indah dari warna aslinya”, tetapi semoga kita masih diberikan kewarasan berpikir dalam era cacat logika ini.

Karena soal paling serius dalam politik hari ini adalah harapan. Haruskah kita terus berjuang untuk perubahan, ketika hampir semua kritik sudah diucapkan secara terbuka, tapi Indonesia tidak kunjung berubah lebih baik? Atau begitukah nasib dunia: sejarah adalah repetisi kesalahan yang tak pernah kita sadari? Harapan untuk merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur, seperti termaktub dalam pembukaan UUD 45 sepertinya makin jauh saja.

Kopi_kir sendirilah!

#kopitalisme
#kopilosophi
#kopipahit
#Malawu_OmahKopi

Loading...

Baca Juga