oleh

Anis, HMI dan Pilpres 2024, Sebuah Opini Tubagus Soleh

Anis, HMI dan pilpres 2024. Oleh: Tubagus Soleh, Inisiator Pergerakan Muslim Nasionalis Indonesia (PMNI).

Saat ini selain Pak Jokowi, Pak Anis Baswedan Gubernur DKI Jakarta adalah Pejabat Negara yang selalu di bully. Bagi sebagian orang, apapun yang dilakukan Anis tidak ada yang bener. Apapun dimata mereka Anis selalu salah.

Saya tidak menemukan masalah pokok yang membuat sebagian orang begitu gigih membenci Anis dan membully dengan ungkapan sadis. Setidaknya sadis menurut saya. Bahkan tidak hanya dalam bentuk kalimat sarkis tapi juga dalam foto-foto yang sudah diedit sedemikian rupa.

Yang paling lucu menurut pendapat sebagian orang yang sangat membenci Anis, karena Anis merupakan representasi Islam Radikal atau Islam Garis Keras. Karena disinyalir kemenangan Anis Pada Pilkada DKI Jakarta yang mengalahkan Pak Basuki Tjahaja Purnama (BTP) karena peran penting dari kekuatan Islam Garis Keras yang diidentikkan dengan FPI dkk.

Tentu saja persepsi begitu sangat ngawur bahkan sangat menyesatkan. DKI Jakarta sangat terbuka. Dan sangat sulit untuk menyembunyikan agenda agenda politik tertentu yang bisa mencederai komitmen kebangsaan kita. Kemenangan Anis Baswedan Sandiaga Uno bukanlah kemenangan FPI atau HTI. Tapi merupakan kemenangan rakyat Indonesia khususnya warga DKI Jakarta yang sudah menentukan pilihan politiknya secara bebas dan rahasia.

Kita harus akui dengan jujur, di era demokratis ini semuanya serba transparan. Kemenangan Anis begitu mempesona dan merupakan bukti otentik bahwa rakyat Indonesia masih menjunjung tinggi politik santun dan tidak suka dengan Politik tinggi hati. Politik mentang-mentang.

Hal ini saya juga lihat pada sosok Pak Jokowi. Kemenangan Pak Jokowi pada pilpres 2014 dan 2019 karena sosok kuat pak Jokowi yang sangat kharismatik.

Ketajaman berfikir, keberanian bertindak serta kesantunan dalam berkata merupakan kekuatan yang menempel kuat pada sosok Pak Jokowi. Sehingga wajar saja bila sosok Pak Jokowi merupakan magnet kuat bagi siapa saja yang mengusung dan menawarkan Pak Jokowi untuk menjadi Pemimpin Bangsa. Dan terbukti Pak Jokowi menang dalam setiap kontestasi dari mulai Walikota, Gubernur hingga Presiden.

Namun kita juga menyaksikan dengan seksama, Pak Jokowi dalam perjalanan dan perjuangan politiknya penuh onak dan duri. Nyaris hampir setiap detik tidak pernah sepi dari caci-maki dan Bully-an. Tuduhan demi Tuduhan nyaris tanpa henti. Mulai dari Isyu PKI, kriminalisasi Ulama, hingga antek Aseng merupakan makanan Isyu harian yang tidak pernah berhenti.

Tapi lagi lagi publik Indonesia menunjukkan keberpihakan politiknya dengan memilih kembali beliau sebagai Presiden RI untuk periode ke 2.

Saya melihat, Sosok Anis yang sekarang menjadi korban bully dari orang-orang yang sangat membencinya, perjalanan dan perjuangannya hampir sama persis dengan Pak Jokowi.

Anis Baswedan satu-satunya Gubernur yang paling di-bully dan paling dibenci oleh “lawan-lawan” politiknya. Padahal, saya mencermati dengan seksama Bully-an terhadap Anis Baswedan tidak sangat subtansial dari segi apapun. Tidak lebih dari ungkapan kekesalan dari belum mampu move on dari kekalahan politik di pilkada DKI Jakarta.

Bila Anis Baswedan terus menerus di-bully serta di caci maki tanpa bukti kuat. Kebiasaan publik Indonesia akan menaruh simpati kepada orang yang selalu di-bully. Dalam hal ini peluang Anis untuk menjadi Presiden RI pasca Pak Jokowi akan terbuka lebar dan sangat memungkinkan.

Kita tahu Semua, Anis tidak sendirian. Beliau lahir dan dibesarkan dari rahim organisasi pergerakan PII ( Pelajar Islam Indonesia ) dan HMI ( Himpunan Mahasiswa Islam ). Kedua organisasi tersebut merupakan organisasi pergerakan kaum muda Islam yang tua dan sudah sangat matang malang melintang dalam dunia pergerakan Politik. Alumni dan Jaringannya sangat kuat untuk menjadi mesin politik yang efektif bagi sebuah agenda besar Bangsa sekaligus mendudukkan Kadernya sebagai Orang nomor satu di Republik Indonesia.

Sosok Anis yang cerdas, santun serta mampu menempatkan diri pada semua anak bangsa akan semakin menumbuhkan rasa simpati yang semakin populer dan tentu saja bully-an yang sengaja dibuat-buat justru akan menjadi pupuk yang akan membesarkan Sosok Anis itu sendiri.

Hemat saya, bila para pembenci Anis sangat ingin Anis tidak jadi Presiden pada tahun 2024 pasca Jokowi, mulai sekarang berhentilah membully Anis. Dan mulailah menggantinya dengan pendekatan pendekatan emosional yang menyentuh langsung nurani rakyat Indonesia. Sehingga kharisma Anis tidak berkembang maksimal di basis-basis rakyat.

Loading...

Baca Juga