oleh

Hari-Hari Politik yang Panjang. Opini Tubagus Soleh

Hari Hari Politik yang Panjang. Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Pusat, Inisiator Pergerakan Muslim Nasionalis Indonesia (PMNI).

Nampaknya dunia politik kita akan terus riweh. Penuh hiruk pikuk dan penuh intrik. Susah untuk memprediksi sampai kapan akan berakhir. Bisa jadi riweh politik akan terjadi sepanjang masa selama sistem demokrasi yang menjadi acuan dalam dunia politik kita.

Politik kita, nampaknya telah mewarisi dendam kusumat yang tak berkesudahan. Gejolak emosi penuh amarah teramat mudah tersulut. Tak lagi pandang siapa dengan siapa. Selama berbeda pandangan dan sikap politik selalu dianggap musuh.

Tadinya saya berfikir, berpolitik selesai setelah kontestasi selesai. Tidak ada lagi nyinyir dan nyindir-nyindir yang bisa menganggu hubungan personal sesama anak bangsa. Tapi pandangan saya ternyata keliru. Sikap nyinyir ternyata terus tidak berhenti meskipun masa kontestasi sudah usai. Bahkan eskalasinya semakin keras dan kejam.

Sepertinya masa masa kampanye yang penuh duka dan luka tidak cukup untuk membuat siapapun yang terlibat sebagai pendukung salah satu konstestasi untuk menjadi lebih bijaksana dan arif dalam mensikapi setiap perbedaan pandangan. Malah sepertinya rintihan duka dan luka itu semakin panjang mengeluarkan lolongannya. Bahkan bisa jadi akan terjadi sepanjang masa.

Dunia politik kita sudah tidak sehat bahkan sakit parah. Politik kita sudah menjadi rumah pembantaian karakter anak-anak bangsa sendiri. Politik kita sudah menjadi monster yang sangat mengerikan. Bersiaplah lahir batin bila akan terjun ke dunia politik. Bersiaplah anda ditelanjangi tanpa belas kasihan.

Fenomena terbaru yang kita saksikan beberapa hari ini begitu memilukan. Belum kering urat syarat kita berjibaku pada pilpres dan pileg dalam pemilu raya. Kini sudah dihadapkan lagi dengan situasi politik yang tidak kalah rumitnya.

Bayangkan, isyu teranyar yang beredar sangat menggelitik. Mulai dari Isyu penggagalan Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada tanggal 20 Oktober, Penolakan RUU KUHP, Revisi UU KPK, kebakaran hutan, isu rasis Papua dan teranyar pembantaian warga pendatang di Wamena Papua.

Lagi-lagi rakyat dipaksa untuk berfikir politik dan politis. Dan ini pastinya akan terjadi sepanjang waktu. Entah sampai kapan. Saya sulit untuk memprediksi.

Yang kita butuhkan sebenarnya sekarang adalah ketenangan pasca pilpres dan pemilu serentak. Mestinya para elit elit harus mendorong rakyat kembali berfikir dan fokus pada kegiatan kegiatan ekonomi produktif. Kembali membangun silih asah,asih asuh dan silihwangian.

Bukan malah menjadi provokator-provokator yang bisa memicu ketegangan horizontal sesama anak bangsa.

Saya berharap dan berdoa semoga bangsa kita tidak selamanya disibukan dengan perbuatan perbuatan yang merusak dan mubazir. Bila tidak, kita akan terjebak pada Hari Hari Panjang Politik bangsa yang memuakkan.

Loading...

Baca Juga