oleh

Gerakan Mahasiswa, Jokowi dan Teori Kemungkinan

Gerakan Mahasiswa, Jokowi dan Teori Kemungkinan. Oleh: Tubagus Soleh, Ketum Babad Banten Pusat, Inisiator Pergerakan Muslim Nasionalis Indonesia (PMNI).

Saya tetap memberikan apresiasi terhadap gerakan Mahasiswa dan Pelajar STM. Apapun alasannya, gerakan Mahasiswa dan Pelajar merupakan alarm buat kita sebagai bangsa. Meskipun ada saja pihak pihak tertentu yang ikutan menjadi penumpang dalam gerakannya.

Namun tidak mengurangi sedikitpun rasa penghormatan saya pada gerakan Mahasiswa dan Pelajar. Tuntutan yang disuarakan oleh mahasiswa dan pelajar masih dalam koridor yang wajar. Menolak Revisi UU KPK, Menolak RUKUHP serta Isyu penting lainnya.

Selama masih dalam koridor gerakan Moral, gerakan Mahasiswa dan Pelajar akan menjadi energi positif dalam mengawal jalannya reformasi bangsa di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara.

Saya juga sangat mengapresiasi sikap rendah hati Pak Jokowi sebagai Presiden. Beliau terlihat tidak emosional dan tetap menghormati para Mahasiswa dan Pelajar meskipun dalam narasi narasi diatas mimbar dan pamplet penuh dengan kemarahan dan kelucuan.

Sikap mendengar Pak Jokowi terhadap tuntutan Gerakan Mahasiswa dan Pelajar merupakan sikap yang penting dalam menumbuhkan iklim demokrasi yang damai. Sikap mendengar Pak Jokowi juga bisa kita artikan bahwa beliau memang benar-benar menangkap napas derita rakyatnya. Sikap mendengar Pak Jokowi dengan penuh rendah hati meskipun dicaci maki akan mendorong Rakyat berani menyuarakan aspirasinya tanpa takut. Hal ini akan menjadi modal penting bagi tumbuhnya iklim demokrasi kita di masa depan.

Gerakan Mahasiswa dan Pelajar sebagai Agent of Change dan Masa depan Bangsa, serta Pak Jokowi sebagai Kepala Negara dan Pemerintahan sudah melakukan perannya masing-masing sesuai dengan mandat yang dipegang.

Mahasiswa sebagai kelompok kritis sudah seharusnya bersikap kritis. Sekritis Kritisnya. Tanpa perlu takut atau terintimidasi. Begitu juga Pak Jokowi, harus bersikap rendah hati terhadap suara suara sumbang yang tidak setuju terhadap revisi UU KPK serta RUU yang lainnya. Sehingga ada titik temu yang bisa saling Menguatkan sebagai bangsa.

Karena kita tahu, semua pihak– baik Mahasiswa maupun Pemerintah– menginginkan keadaan bangsa yang lebih baik di masa depan. Kuat secara Software dan hardware dalam menjalankan roda pemerintahan dalam rangka mewujudkan Indonesia yang kita cita-citakan bersama sebagai bangsa.

Gerakan Mahasiswa dan Pelajar saat ini yang sedang terjadi, hanyalah sebuah alarm bagi kita sebagai bangsa. Karena kalau saya menyimak dari pernyataan para Presiden BEM seperti yang diungkapkan oleh Presiden BEM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ciputat, bahwa Gerakan Mahasiswa tetap menempatkan diri sebagai pengisi Pos Pos Kritis yang saat ini banyak ditinggalkan oleh banyak pihak. Sehingga kontrol kepada penguasa sangat lemah.

Oleh karena itu, semua pihak terutama pemerintah jangan sekali-kali membuat stigma yang lebay terhadap gerakan mahasiswa dan pelajar. Apalagi sampai membuat Tuduhan yang tidak produktif dan meninggalkan kesan negatif yang bisa memicu perlawanan yang lebih besar dari kaum muda Indonesia yang terkenal kritis dan pemberani.

Mengembangkan teori Kemungkinan serta menstigmatisasi gerakan Mahasiswa dan Pelajar sebagai gerakan partisan yang menjadi bagian dari “kelompok yang kalah” dalam kontestasi Pilpres yang lalu menjadi sangat tidak relevan. Hemat saya, pandanglah Gerakan Mahasiswa dan Pelajar sebagai Gerakan Mahasiswa dan pelajar apa adanya. Titik.

Kalau memang Pemerintah siap berdialog dengan Mahasiswa dan Pelajar, tinggal lakukan saja secara terbuka. Biar rakyat bisa melihat gagasan yang diperjuangkan oleh MahasiswaPelajar dan Rakyat juga jadi Tahu apa yang sedang dilakukan oleh pemerintah terhadap agenda aksi yang Mahasiswa dan Pelajar sedang Perjuangkan dengan berdarah darah.

Loading...

Baca Juga