oleh

GPI: Menteri Agama, Radikalisme Bukan Cadar dan Celana Cingkrang

SUARAKEADILAN.ID – Sekretaris Jendral Gerakan Pemuda Islam (GPI) Diko Nugraha meminta agar pernyataan-pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi tidak memancing kegaduhan umat. Kondisi bangsa Indonesia saat ini, setiap kegaduhan yang muncul akan dimanfaatkan oleh sebagian oknum yang merasa tidak puas dengan formasi Kabinet Indonesia Maju yang disusun Jokowi.

Pernyataan Menteri Agama soal radikalisme yang dikaitkan dengan gaya berpakaian sebagian umat Islam di Indonesia sangat disayangkan oleh Diko Nugraha. Ditemui di markas GPI jalan Menteng Raya 58 Jakarta Pusat Selasa (4/11/2019) malam, Diko menyadari statemen pribadi ini didasari latar belakang Fachrul Razi sebagai orang militer.

“Sebagai Menteri Agama, Fachrul Razi seyogyanya mengedepankan nilai-nilai akhlak dalam berdiplomasi. Menteri Agama terkesan kurang faham soal adab atau akhlak, karena terbiasa dengan rantai komando. Seharusnya Fachrul Razi mengedepankan nilai-nilai luhur agama tersebut,” kata Sekjend GPI.

Menurut Diko, Menteri Agama seharusnya berprasangka baik terhadap seluruh komponen anak bangsa. Mengaitkan radikalisme dengan gaya berpakaian sebagian umat Islam justru akan memicu ketersinggungan seluruh umat. Bagaimanapun juga, semua yang disebut Fchrul Razi dalam pernyataannya beberapa saat lalu, mencerminkan identitas umat Islam yang notabene mayoritas di Indonesia.

“Saya selaku kelompok Islam berharap Menteri Agama mengedepankan khusnudzon. Jadi berprasangka baik dulu. Jangan soal radikalisme diseret kearah gaya berpakaian sebagian umat Islam. Karena celana cingkrang, jidat hitam atau cadar, tidak ada hubungannya dengan radikal. Jangan sampai hal ini memicu kegaduhan di umat. Karena ini soal simbol-simbol agama mayoritas,” ujar Diko.

Sekjend GPI ini mengaku kecewa dengan statemen Fachrul Razi yang dirasa berpotensi memancing kegaduhan umat. Menurutnya, dalam kondisi politik sekarang ini, setiap kegaduhan akan dimanfaatkan oleh oknum yang punya kepentingan tertentu.

“Karena hal ini sensitif. Menyangkut gaya atau style mayoritas pemeluk agama di Republik ini. Karena ditakutkan hal ini akan menjadi kegaduhan, yang dimanfaatkan oleh sebagian yang tidak puas dengan formasi Kabinet Indonesia Maju yang disusun Jokowi. Radikalisme bukan memerangi pakaiannnya, memerangi gayanya, tapi memerangi perilaku terorisme,” tutup Diko Nugraha. (AMN)

Loading...

Baca Juga