oleh

Penderitaan Kita Belum Sebanding Dengan Nabi Yunus AS. Opini Subairi

Penderitaan Kita Belum Sebanding Dengan Nabi Yunus AS. Oleh: Ustad Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari Gorontalo.

Alhamdulillah Allah SWT, masih berikan kita kesempatan untuk mengisi bulan ramadhan yang mulia pada tahun ini, meski banyak waktu kita habiskan di rumah. Karena ada himbauan supaya kita di rumah saja disebabkan wabah Covid-19. Maka banyak ibadah kita kerjakan di rumah, apalagi seperti saudara kita yang berada di zona merah. Mereka tetap berdiam diri dirumah mulai dari pagi, petang hingga malam.

Apa yang perlu kita lakukan? Yang paling baik dan paling utama kita lakukan adalah mengambil hikmah dari kisah Nabi Yunus AS yang terkurung di perut ikan. Disebutkan dalam surah Al-Anbiya ayat 87 : Wazannun izzahaba mugaadhiban (dan ingatlah kisah Nabi Yunus AS ketika pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah). Karena kaumnya tidak mau menerima petunjuk fazanna allannaqdira ‘alaihi (Nabi yunus yakin bahwasanya Allah SWT, tidak akan menyusahkannya tidak akan menyempitkan keadaannya).

Baca Juga :  Buruh Kasar TKA Cina 800 Ribu, Tenaga Kerja Pribumi 120 Ribu

Mungkin saat ini kita merasa sengsara berada di rumah. Semua terasa begitu sempit. Bisa kita bayangkan kondisi Nabi Yunus AS yang berada di tempat yang sangat kecil gelap gulita, di dalam perut ikan.

Fanaada fizzhulumat (dalam kegelapan perut ikan, kegelapan lautan, kegelapan malam). Disitulah Nabi Yunus AS berseru menyebut nama Allah SWT, memanggil Allah SWT, bertasbih mensucikan Allah SWT. Lailaha illa anta subhanaka inni kuntu minazzhalimin (tidak ada tuhan yang patut disembah dengan kebenaran kecuali engkau ya Allah, maha suci engkau ya Allah). Meskipun hamba dalam perut ikan tetapi engkau ya Allah jauh dari sifat kekurangan. Apabila engkau berkehendak untuk mengeluarkan hamba dari perut ikan ini dan mengembalikan hamba bisa menyaksikan dunia ini, maka hamba akan kembali.

Baca Juga :  Sukseskan MRSF, Satlantas Polres Wajo Silaturahmi dengan Mahasiswa

Begitu pulalah keyakinan kita pada diri kita sekarang ini, yang perlu kita lakukan adalah melihat diri kita bahwasanya inni kuntu minazzhalimin (ya Allah sesungguhnya aku ini termasuk ke dalam golongan orang yang zhalim). Orang yang menganiyaya diri. Mungkin banyak hak-hak Allah yang kita tinggalkan dan abaikan. Bahkan mungkin banyak hak-hak manusia yang tidak kita pedulikan, yang tidak kita berikan.

Maka inilah masanya kita tinggal dirumah, banyak memuhasabah diri, kemudian menyeru Allah SWT, dalam kesunyian kita di rumah. Di siang hari dan di malam hari. Karena hanya Allah lah yang akan megangkat wabah ini, tidak ada yang lain. Dialah Allah SWT yang akan menghilangkannya, sehingga keadaan kita kembali pulih sebagaimana biasa.

Baca Juga :  Jangan Bergaya Malaikat Tapi Tidak Punya Mimpi. Opini Subairi

Sebagaimana yang disebutkan pada ayat yang berikutnya yaitu fastajabna lahu (kami perkenankan doa Nabi Yunus AS). Wenajjainahu minalghammi (dan kami selamatkan dia dari kesusahan itu). Yaitu Allah memerintahkan ikan itu untuk menepi kemudian memuntahkan Nabi Yunus ke darat. Wakazalika nunjil mu’minin (dan demikianlah Allah menyelamatkan orang-orang beriman sebagaimana Allah SWT, menyelamatkan Nabi Yunus a.s. dahulu)

Inysya Allah kita akan diselamatkan oleh Allah pada hari ini tapi dengan syarat mu’minin yaitu beriman kepada Allah SWT. Mari kita bangun keimanan kita meskipun kita tidak dapat beribadah seperti biasa di masjid, tetapi kita masih dapat beribadah di rumah. Dan mudah-mudahan terus bertambah keimanan kita apalagi kita berada di bulan ramadhan yang mulia ini.

Loading...

Baca Juga