oleh

Peringati Tragedi Srebrenica, Bukan Sentimen Seremonial Belaka

Peringati Tragedi Srebrenica, Bukan Sentimen Seremonial Belaka. Oleh: Atik Nuryanti S.Pd, Praktisi Pendidikan.

11 Juli 2020  Muslim Bosnia memperingati hari pembantaian kaum muslimin Srebrenica di Pusat Peringatan Potocari, seperti  yang dilakukan oleh Sehad Hasanoic, salah satu  dari sekitar tiga ribu kerabat korban yang menghadiri peringatan tersebut meski ditengah pandemi virus  Corona Covid-19. Peringatan tahun ini sekaligus menjadi upacara penguburan sembilan korban yang diidentifikasi selama setahun terakhir (cnnindonesia.com/12/07)

Telah 25 tahun waktu  berlalu  kejadian pembantaian Srebrenica (disebut juga Genosida Srebrenica) adalah kejadian pembantaian sekitar lebih dari 8000 lelaki dan remaja etnis Muslim Bosniak pada Juli 1995 di daerah Srebrenica, Bosnia oleh pasukan Republik Srpska pimpinan Jenderal Ratko Mladić. Jenderal Mladic telah didapati bersalah dan paling bertanggug jawab  karena genosida dan berbagai kejahatan perang lain di Yugoslavia.

Mladic mengatakan sebagaimana yang dikutip dalam cordova.media bahwa serangan itu dalam upaya mengusir muslim Bosnia yang ia sebut sebagai Turks (Turki). Mladic “ Ingatlah perlawanan kita ketika melawan bangsa Turks (Turki). Waktunya telah tiba umtuk membalas dendam pada muslim”.

Mladic ternyata masih menyimpan dendam masa lalu pada Turki Utsmani yang pernah menaklukan wilayah Balkan termasuk Serbia. Ia tidak bisa menerima  berkat dakwah para Da’i dan kebijakan Khalifah Utsmani saat itu, penduduk Bosnia berbondong-bondong memeluk Islam.

Srebenica adalah wilayah yang didiami Muslim Bosnia, sekitar 80 km di utara Sarajevo, dan sebenarnya memiliki status daerah perlindungan PBB. Namun penyerangan dan pengepungan oleh pasukan Mladić berlanjut. Persediaan makanan hampir habis untuk warga sipil dan untuk pasukan tentara Belanda yang ikut beroperasi sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB. Penduduk Bosniak mulai mati kelaparan.

Pada tanggal 6 Juli 1995, pasukan Korps Drina dari tentara Serbia Bosnia mulai menggempur pos-pos tentara Belanda di Srebrenica. Pada tanggal 11 Juli pasukan Serbia memasuki Srebrenica. Anak-anak, wanita dan orang tua berkumpul di Potocari untuk mencari perlindungan dari pasukan Belanda. Pada 12 Juli, pasukan Serbia mulai memisahkan laki-laki berumur 12-77 untuk “diinterogasi”. Pada tanggal 13 Juli pembantaian pertama terjadi di gudang dekat desa Kravica. Sementara pasukan Belanda menyerahkan 5000 pengungsi Bosnia kepada pasukan Serbia, untuk ditukarkan dengan 14 tentara Belanda yang ditahan pihak Serbia. Pembantaian terus berlangsung. Pada 16 Juli berita adanya pembantaian mulai tersebar. Tentara Belanda meninggalkan Srebrenica, dan juga meninggalkan persenjataan dan perlengkapan mereka. Selama 5 hari pembantaian ini, 8000 Muslim Bosnia telah terbunuh (wikipedia.com).

Baca Juga :  Taufan Pawe Apresiasi Seminar Nasional Yang Digelar PGMI Parepare

Artinya Belanda membiarkan aksi genosida muslim Bosnia yang terjadi di depan matanya. Padahal, saat itu pasukan Belanda sedang berada di sana dengan tugas melakukan pengamanan sebagai pasukan penjaga perdamaian PBB sedangkan Pasukan PBB sebagai lembaga yang bertujuan menjaga perdamaian dan keamanan dunia  menyerah atau mundur ke kota, dan serangan udara NATO, yang dipanggil untuk membantu, tidak berbuat banyak untuk meredakan serangan. Lalu kemanakah kaum Muslimin akan meminta perlindungan?

Pembantaian Srebrenica dianggap secara meluas sebagai pembunuhan massal terbesar di Eropa dan dianggap sebagai kejadian paling menakutkan dan kontroversial dalam sejarah Eropa modern pasca Perang Dunia II. 8000 Muslim Bosnia, laki- laki, perempuan, anak-anak dibantai, diperkosa, disiksa, dan diusir dari rumah-rumah mereka, dieksekusi dengan menggunakan senapan mesin, sebelum dibuang dengan menggunakan buldoser di kuburan-kuburan massal. Sungguh brutal.

Bahkan sampai hari ini sejak runtuhnya pemerintahan Turki Ustmani kaum Muslimin mengalami hal yang sama seperti Muslim Bosnia 25 tahun yang lalu. Lihat saja kaum Muslimin di Palestina, Suriah, Turkistan Timur, Afghanistan, Somalia, Thailand Selatan, Filiphina, Irak, Libya, Yaman, Republika Afrika Tengah dan Myanmar. Mareka diperlakukan diskriminatif bahkan penguasa negerinya dengan mudah mengatakan bahwa pembantaian, pengusiaran dan tidakan yang semisalnya adalah upaya untuk pembersihan etnis. Pertanyaannya, pembersihan etnis apa? Apa di dunia ini hanya di huni untuk etnis tertentu?

Baca Juga :  Zonasi, Masalah atau Solusi. Opini Atik Nuryanti

Srebrenica, Bosnia dan Pengaruh Islam

Islam pertama kali diperkenalkan di kawasan Bosnia dan Herzigovina saat penaklukan Ottoman paruh kedua abad ke-15, atau sekitar 1463. Namun, butuh waktu 100 tahun Islam menjadi mayoritas di negara tersebut. Ketua komunitas Islam Bosnia Herzegovina Husein Kavazovic mengatakan, Islam menyebar di Bosnia melalui institusi yang didirikan oleh Ottoman Turki (Kesultanan Utsmaniyah). Islam tidak disebarkan dari orang yang berceramah keliling atau pedagang seperti di Venesia (Replubika.co)

Menurut Schuman dalam “Nations in Transition: Bosnia and Herzegovina” (2004) Schuman menjelaskan, para sultan Utsmaniyah melindungi hak-hak orang non-Muslim di wilayah taklukan untuk hidup secara wajar dan beribadah. Bagaimanapun, ini berpengaruh terhadap gelombang perpindahan agama.

Disisi lain para sultan Utsmaniyah lebih mementingkan aspek meritokrasi dari pada identitas agama. Sebagai contoh, seorang Kristen Ortodoks bernama Soko lovic terpilih untuk dikirim ke ibu kota Kesultanan Utsmaniyah, Istanbul, demi melanjutkan pendidikan.

Dia kemudian menjadi seorang Muslim dan pada akhirnya meraih posisi wazir utama. Schuman menyebut, agama Kristen masih dipeluk kalang an petani, sedangkan kelas menengah dan kelas atas Bosnia-Herzegovina condong pada Islam. Dalam kekuasaan Turki Utsmaniyah, Kota Vrhbosna menjadi pusat kegiatan politik, pendidikan, dan budaya masyarakat.

Puluhan masjid dan ratusan sekolah untuk umum dibangun. Menjelang pertengahan tahun 1500-an, Vrhbosna  (kini Sarajevo) telah memiliki tata kota yang cukup modern, lengkap dengan sistem irigasi, fasilitas kesehatan publik, dan destinasi wisata.

Bosnia, Albania, dan Kosovo merupakan bagian negara Kekaisaran Ottoman di Balkan yang sebagian besar penduduknya memeluk Islam dan tetap tinggal di sana. Di negara lain, setelah Ottoman tak lagi memegang kekuasaan, banyak Muslim yang diusir, dipaksa pindah agama, dibantai, juga melarikan diri ke negara lain sampai hari ini.

Kembali pada Islam, Islam memuliakan

Maka memperingati hari pembantaian kaum muslimin Srebrenica adalah pelajaran bagi kaum Muslimin bahwa umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang tulus dan sadar dengan tekad untuk menghadapi ancaman apapun terhadap umat ini, yakni menjadi perisai untuk melindungi nyawa dan kemuliaan umat ini yakni institusi Khilafah.

Baca Juga :  Sense of Crisis VS Multidimensional Crisis Adalah Buah Sistem Kapitalis

Khilafah akan menjaga kehormatan seluruh warga negara yang hidup didalamnya dengan memanusiakan manusia, tidak boleh satu darahpun yang tertumpah secara tidak haq dalam pandangan Khilafah. Karena Khilafah akan memberlakukan syariat Islam dalam politik luar negeri maupun dalam negerinya. Khilafah telah menunjukkan kewibawaan dan kedudukan mulianya selama 13 abad lebih di dunia. Penerapan politik Islam (Khilafah) dalam kurun waktu tersebut mewujudkan dunia yang aman, damai, jauh dari praktek diskriminatif sebagaimana penerapan politik komunisme, demokrasi, sekulerisme dan model sistem kufur lainnya.

Teladan ini telah  dicontohkan oleh Khalifah al-Mu’tashim Billah. Kota Amuriah yang dikuasai oleh imperium Romawi pada saat itu berhasil ditaklukkannya. Faktor yang mendorong penaklukan tersebut adalah demi menyelamatkan kehormatan seorang Muslimah yang dilecehkan oleh Romawi. Mu’tashim memimpin pasukannya dan menewaskan 3000 tentara Romawi dengan gagah berani. Sementara tentara-tentara Romawi yang lain kocar kacir dan menyerahkan diri mereka menjadi tawanan Khalifah.

Inilah diantara beberapa contoh sikap ksatria, para pemimpin Muslim. Pemimpin yang benar-benar menjaga warganegara dengan penuh kasih dan memberikan perlindungan nyata bagi siapapun yang hidup dibawah kepemimpinannya. Pemimpin yang paham betul bahwa satu darah kaum Muslimin yang tumpah lebih berharga daripada runtuhnya Ka’bah.

Alhasil, pemimpin yang gagah berani hanya akan terwujud dalam sistem yang baik, dialah sistem Islam dibawah naungan Khilafah. Khilafahlah satu-satunya solusi menyelesaikan seluruh bentuk  pembantaian yang terjadi atas kaum Muslimin

Khilafah juga yang akan mengurus seluruh kaum Muslimin dengan pemerintahan Islam, mengurus warganegara dengan pengurusan yang amanah dan penuh tanggung jawab berlandaskan kepada aqidah Islam.

Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang dibelakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.’(HR.Muslim)

Wallohualam bishowab

Loading...

Baca Juga