oleh

Hikmah Iedul Fitri, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Hikmah Iedul Fitri. Oleh: Malika Dwi Ana, Penggiat Institute Study Agama dan Civil Society.

Ketika ada proses “menemukan kembali” siapa dirimu dan dari mana asalmu, maka proses itu disebut mudik, alias pulang. Kesadaran akan “kemahlukan” secara kaffah semestinya terbangun dari proses ini. Kembali ke fitri dimaksudkan kembali ke fitrah diri, fitrah penciptaan, bahwa setiap ruh manusia itu pernah menyaksikan dan bersaksi tentang Tuhan (tauhid).

Manusia diawal penciptaan telah mengaku dan berjanji untuk tunduk dan patuh kepada Allah, mau menyembah-Nya, menjalankan perintahnya-Nya dan menjauhi larangannya. “Alastu birabbikum? (Apakah Aku Tuhanmu?), lalu dijawab, “Bala syahidna” (Ya, kami bersaksi). Ini adalah Perjanjian Primordial manusia sebagai hamba di depan Rabbnya. Maka kembali ke Fitri adalah kembali kepada derajat kemanusiaan, kembali kepada derajat kesempurnaan manusia. Kembali menjadi “Insan”. Manusia yang tentunya tidak akan membuat kerusakan di bumi jika mengingat janjinya.

“Wahai logika hancur. Wahai kemanusiaan kikis. Wahai akal dari Tuhan yang didayagunakan untuk mengakali. Wahai sistem tipudaya. Wahai regulasi perampokan. Wahai budaya birokrasi pengutilan. Wahai peradaban kemunafikan. Lebah, Semut dan Harimau-pun punya kepemimpinan, dan ummat manusia kekasih Sang Pencipta melecehkannya. Wahai kumpulan makhluk rendah diri, karena sindrom inferioritas akut. Wahai para khalifah tanpa martabat, tak punya harga diri, tak ngerti muru’ah. Kalian meyakini diri kalian waras?”

Jadi, selamat Iedul Fitri, selamat mudik dan menemukan diri, kembali ke fitri… Salamun Qoulam Mirrobbirrohim, “salam” sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.

Loading...

Baca Juga