oleh

Membangun Peradaban Berbasis Iqra’ di Era Global

Membangun Peradaban Berbasis Iqra’ di Era Global. Oleh: Dr H Andi Muhammad Akmal M HI, Dosen Universitas Islam Makassar, Pemerhati Agama.

Secara epistimologi isi dari al-Quran itu sendiri sangat kompleks dalam menginterpretasikan atau menafsirkan dunia dan akhirat. Ketika menjalankan agama Islam dengan benar dan universal bukan secara parsial maka akan menciptakan yang dapat mensejahterakan penghuni pada tempat tersebut. Perlu kita melakukan sebuah refleksi bahwa peradaban dalam agama Islam dibangun oleh ilmu pengetahuan , Islam yang dihasilkan dari pandangan Islam.

Tema ini mengandung dua poin utama. Pertama, tentang dunia dunia global. Apa karakteristik dasarnya dan bagaimana posisi Islam dalam menyikapi dunia global tesebut?

Dan yang kedua adalah peradaban itu sendiri. Saya kemudian terpikir membahasnya secara ringkas dari sudut ragam “bentuk” peradaban yang ada, ciri-ciri peradaban Islam, dan modal apa saja yang diperlukan dalam membangun peradaban alternatif itu?

Dunia kita dunia global,

bagi sebagian orang istilah “global” terasa baru dan asing. Seolah konsep ini adalah konsep yang diproduksi oleh orang lain, dan seringkali menimbulkan berbagai kecurigaan dan kekhawatiran.

Padahal konsep dunia global telah disampaikan oleh Al-Quran dan Rasulullah sejak 15 abad lalu. Semua konsep-konsep dalam agama Islam itu bernuansa global. Dari konsep ketuhanan, karasulan, Al-Quran, dan Islam itu sendiri adalah agama global.

Umat meyakini bahwa Islam yang dibawa oleh para pendahulu Muhammad SAW itu bersifat lokal. Sementara Islam yang dibawa Muhammad SAW adalah Islam yang “rahmatan lil-alamin”. Atau Islam yang ajarannya bertujuan membawa rahmah ke seluruh penjuru alam.

Di sinilah kemudian sejatinya Islam sangat antisipatif dengan globalisasi yang terjadi. Karena ajarannya memang bernafaskan energi dunia global.

Pertanyaan yang kemudian timbul adalah apa saja karakter dasar dunia global itu? Apakah karakter itu antithesis terhadap nilai-nilai Islam? Atau sebaliknya sejalan dengan nilai-nilainya?

Ada tiga karakteristik utama dunia global saat ini.

1) Bahwa dunia global kita saat ini mengalami kecepatan (speed). Dengan kemajuan sains dan teknologi terjadi laju informasi yang luar biasa cepat. Sebuah peristiwa yang terjadi di belahan dunia boleh jadi langsung diketahui oleh manusia yang hidup di belahan dunia lainnya. Apalagi dengan inovasi media sosial yang sangat luar biasa saat ini. Lalu lintas informasi itu serasa tiada batas.

Dalam hal kecepatan ini sesungguhnya Islam telah menjadikannya sebagai salah satu karakter dasarnya. Salah satu dari ayat-ayat yang membicarakan tentang “kecepatan” ini adalah: “Dan bersegeralah kamu menuju kepada ampunan Tuhanmu dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi, disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (Al-Quran).

2) Akibat dari kecepatan arus informasi tadi menjadikan dunia kita mengalami pengecilan yang luar biasa. Dalam dunia global saat ini terjadi penyempitan, yang menjadikan semua batas-batas itu menjadi minum. Akibatnya terasa semua manusia hidup dalam satu rumah bersama (shared home).

Maka di hadapan kita sejatinya hanya ada dua pilihan. Hidup rukun dan damai dalam rumah itu. Atau memilih saling membenci dan berkelahi, bahkan berlomba merusak rumah sendiri.

Islam mengajatkan saling memahami, tenggang rasa, dan kerjasama. Itulah yang tersimpulkan dalam firman Allah: “Dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal”. Kata “ta’aruf” Itulah yang menjadi dasar dialog menuju kepada kehidupan dunia yang harmoni dan damai.

3) Pada saat yang sama dunia global saat ini menumbuhkan sikap “kompetisi” yang sangat tinggi. Inilah karakter ketiga dunia. Masing-masing pihak ingin menjadikan diri/kelompoknya lebih hebat, menang dan dominan. Kompetisi itu terjadi dalam segala aspek kehidupan manusia. Dari perekonomian, pendidikan, budaya, hingga ke militer, bahkan agama.

Islam pada saat yang sama sejatinya mengajarkan umat ini untuk mengambil participasi aktif dalam kompetisi itu. Islam tidak menghendaki umat ini menjadi penonton yang sekedar bisa bertepuk tangan atau mengharap belas kasih orang lain.

Al-Quran penuh dengan ayat-ayat kompetisi itu. “Dan berfastabiqul khaeratlah”. Atau “Dan yang demikian itu (syurga) hendaklah orang-orang beriman saling berlomba”.

Dari ketiga karakter utama dunia global itu jelas bahw Islam tidaklah asing dengan dunia global saat ini. Islam adalah agama yang sejatinya telah mengantisipasi semua dinamika yang terjadi dan akan terjadi dalam hidup manusia.

Isu perbenturan peradaban manusia.

Sejak dari dulu saya tidak pernah setuju dengan hipotesis Hangtington yang memprediksi terjadinya perbenturan peradaban manusia. Teori ini dikenal dengan istilah “clash among civilizations”. Oleh Hangtington diprediksi bahwa pada abad 21 ini akan terjadi perbenturan antara tiga peradaban besar dunia. Yaitu peradaban Barat, China, dan tentunya Islam.

Dalam pandangan saya yang mungkin memang sederhana (simplistik) saya melihat bahwa peradaban itu satu. Yang berbeda adalah nilai-nilai yang dijadikan sebagai “basis peradaban”. Perbedaan nilai inilah yang kemudian menjadikannya sebagai peradaban atau bukan peradaban. Artinya jika nilai-nilai itu benar dan baik maka itulah peradaban manusia. Sebaliknya jika nilai-nilai Yang terpakai membangun peradaban itu salah maka itu bukan peradaban.

Hasilnya yang “clash” (berbenturan) bukan peradaban. Karena sejatinya peradaban itu tunggal. “Al-Haqq min Rabbika falaa takuunanna minal mumtariin”. Peradaban itu semuanya berasal dari “kebenaran sejati”. Jika peradaban itu tidak lagi sejalan dengan “Al-Hqq” maka itu bukan peradaban.

Kesimpulannya pada akhirnya yang berbenturan adalah nilai-nilai yang berperadaban dan nilai-nilai yang “anti peradaban”. Dengan memakai bahasa agama antara “cahaya” dan kegelapan. Antara “hidayah” dan “kesesatan”.
Peradaban alternatif berbasis Iqra’.

Klaim membangun peradaban masa kini menumbuhkan ragam paradoks dalam kehidupan manusia. Semakin manusia merasa berilmu semakin nampak karakter kebodohan itu. Semakin maju dalam dunia materinya semakin pula manusia jauh dari kepuasan hidup. Semakin maju perangkap komunikasi semakin rentang terjadi “miskomunikasi” di antara manusia.

Paradoks demi paradoks itu terjadi dalam segala skala kehidupan manusia. Semakin banyak senjata diproduksi untuk keamanan, semakin terasa ketidak amanan dalam hidup.

Kenapa yang demikian itu terjadi? Jawabannya karena dalam membangun peradaban, apa yang diyakini sebagai peradaban saat ini sesungguhnya bukan peradaban. Nilai-nilai yang diusung sebagai pilar peradaban itu justru memporak porandakan peradaban manusia.

Loading...

Baca Juga