oleh

Pondok Pesantren Al Mujahidin Asadiyah Longka Butuh Asrama Santri

SUARAKEADILAN – Jumlah santri dan santriwati yang ada di  Pondok Pesantren Al Mujahidin Asadiyah Longka ternyata tidak berimbang dengan jumlah asrama. Pengurus terpaksa harus memulangkan santriwati usai belajar mengajar dan kembali ke pondok pada pagi harinya.

Demikian diceritakan oleh Kepala Madrasah Aliyah As’adiyah Longka Muh Haris S.Pd saat ditemui suarakeadilan.id di ruang Kepala Madrasah Aliyah As’adiyah Longka yang berada di komplek Pondok Pesantren Al-Mujahidin As’adiyah Longka, Kecamatan Kera, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis, (06/12/2018). Di komplek pondok pesantren ini juga terdapat Madrasah Tsanawiyah As’adiyah Longka, dengan Kepala Madrasah Suriati SPdI.

Muh Haris selaku kepala Madrasah Aliyah menjelaskan kondisi Pondok Pesantren As’Adiyah Longka. Saat ini, santriwati terpaksa harus pulang pergi  dari pondok pesantren, yang mengakibatkan proses belajar mengajar kurang maksimal.

“Sekarang ini kami sangat menginginkan asrama santri sebagai tempat santri bermukim. Dan melakukan kegiatan takhassus. Seperti belajar ilmu alat nahwu saraf, pengajian kitab kuning dan menghafal Al-Quran,” kata Kepala Madrasah Aliyah As’adiyah Longka.

Lanjut Muh Haris, pondok pesantren Al Mujahidin Asadiyah Longka memang memiliki asrama putri. Namun kapasitas ruangannya tidak mencukupi dibanding jumlah santriwati. Kondisinya pun sebenarnya sudah tidak layak. Saat ini asrama putri yang kurang layak ini digunakan untuk ruang tinggal pembina pondok. Karena pondok pesantren ini juga kekurangan ruang tinggal pembina.

“Bukan cuman asrama yang kami butuhkan, tetapi juga pembina yang bisa menetap di Pesantren. Tinggal bersama, membina bersama, untuk kemajuan kemajuan Pondok Pesantren Al Mujahidin Asadiyah Longka. Karena beberapa bulan kami sudah mengambil beberapa pembina bermukim atau tinggal di Pondok, tetapi tidak ada yang betah,” kata Muh Haris.

Sementara itu di tempat yang sama, Muhammad Gustan seorang pembina di Pondok Pesantren Al Mujahidin Asadiyah Longka mengharapkan perhatian dari pemerintah daerah. Bantuan dari pihak pemerintah sangat dibutuhkan pondok pesantren untuk pembangunan asrama santri.

“Karena sumbangsih atau bantuan serta kontribusi masyarakat sangat minim. Hal itu dibuktikan dengan adanya program infaq buat santri 100 ribu rupiah per siswa. Sampai saat ini baru sekita 50 persen tingkat MTs dan 60 persen untuk tingkatan MA. Ini menunjukkan kurangnya kesadaran dan partisipasinya orang tua santri,” ujar Gustan.

Dengan bantuan dari berbagai pihak, Gustan optimis pondok pesantren Al Mujahidin Asadiyah Longka akan menjadi pondok pesantren yang berkualitas dan menjadi ikon di kecamatan Kera.

“Pondok Pesantren yang sekarang ini mempunyai santri kurang lebih 202 santri. Sangat potensial menjadi pesantren kebanggaan masyarakat kecamatan Kera,” tutup Muhammad Gustan. (SUB)

Loading...

Baca Juga