oleh

Logika Agama Tentang Memahami Hidup, Sebuah Opini Subairi

Logika Agama Tentang Memahami Hidup. Oleh: Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria.

Dalam kehidupan, ada orang yang sudah melakukan sesuatu, tetapi dia merasa tidak melakukan apa-apa. Padahal apa yang ia lakukan sangat berarti buat orang lain. Misalnya, orang di sekitarnya meganggap orang itu sungguh luar biasa. Sementara dirinya sendiri tidak merasa luar biasa.

Ada juga orang yang memang hidupnya tidak berarti. Maaf kalau saya agak kasar sedikit. Misalnya, ada orang yang aktifitasnya makan, minum, dan beranak. Ada juga orang yang pergi ke kantor di pagi hari pulang di sore hari bahkan ada yang sampai malam hari. Jadi hidupnya gitu-gitu terus.

Sebenarnya kita perlu memahami hidup itu apa? Agar lebih bermakna? Bermakna dan tidaknya hidup itu tergantung bagaimana kita melihat. Saya berikan suatu contoh. Jika ada orang yang divonis oleh dokter berdasarkan hasil lab, bahwa dia terkena penyakit kanker yang sudah stadium tiga kira-kira.

Kita sebagai manusia merespon berita ini sebagai berita baik atau buruk? Saya dapat pastikan mayoritas orang mengklaim bahwa berita ini adalah berita buruk. Namun sesungguhnya ada dua tipe orang dalam memberikan makna dalam suatu persoalan.

Ada yang begitu mendengar bahwa itu adalah berita buruk, langsung benar-benar dia drop. Dia jatuh, sepertinya dia sudah tidak mempunyai harapan hidup. Dia merasa hopeless, sudah tidak ada harapan apa-apa dan dia sangat amat sedih.

Tetapi ada juga orang yang begitu mendengar berita tersebut, sedih sih sedih tetapi langsung dia berfikir. Ya Allah, semoga penyakit yang saya derita ini menjadi penghapus bagi dosa-dosa saya. Semoga ya Allah, setiap rasa sakit yang saya rasakan menjadi penggugur dan penghapus dosa-dosaku. Dan ya Allah, sekiranya saya mati karena penyakit yang saya derita ini. Saya ikhlas untuk menghadapMu dengan harapan mendapatkan ridhoMu.

Baca Juga :  Komersialisasi Tes Corona Menelan Korban. Opini Syarifa Ashillah
Ada dua orang cara menyikapinya. Sekarang saya ingin menawarkan beberapa rumus bagaimana supaya kita dapat memahami hidup ini. Yang pertama, kita harus yakin dan percaya bahwa hidup itu tidak pernah rata. Life is never flat, hidup itu selalu naik turun. Bagi kita yang punya putra-putri ada, saatnya anak kita membanggakan, membahagiakan. Tetapi ada saatnya anak itu mengkhawatirkan, bahkan boleh jadi mengecewakan.

Suami ada saatnya membanggakan, membahagiakan, tetapi ada saatnya mungkin mengecewakan. Istri juga demikian, ada saatnya menyenangkan tetapi juga mungkin ada saat menjengkelkan. Nah, karena hidup ini tidak pernah rata. Hidup itu selalu naik turun.

Kita mesti membuat dua garis. Garis bagian atas kita tulis dengan narasi syukur, sedangkan bagian bawah kita tulis dengan narasi sabar. Begitu hidup kita sukses, merasakan kenikmatan dan kebahagiaan, maka kita harus bersyukur. Karena penyakit orang sukses itu suka lupa diri, takabbur. Dan ketika kita terjerembab, terjatuh maka harus sabar, karena penyakit orang yang terpuruk itu suka putus asa.

Marilah kita mencoba melihat apa bedanya Firaun dengan Nabi Sulaiman? Dan apa persamaannya? Firaun dan Nabi Sulaiman, dua-duanya diberi amanah ilmu, kekuasaan dan kekayaan. Hanya bedanya, Firaun itu dengan dengan kesuksesannya menepuk dada dia katakan ana Rabbukumul ‘ala (aku ini tuhan kalian yang mulia). Jadi dia memproklamirkan dirinya sebagai tuhan dengan segala kesuksesanya. Tetapi Nabi Sulaiman justeru bersujud dan mengatakan haza min fadli Rabbi (ini adalah sebahagian dari karunia Tuhan-ku).

Secara sederhana, ada dua macam mental di alam pikir manusia dalam memahami hidup. Ada mental Firaun, ada juga yang bermental Nabi Sulaiman. Masih mending Fiaun karena dia kan seorang raja, sementara kita? Bukan raja tetapi sombongnya kayak Firaun. Firaun sombong tetapi agak wajar, hehehe bercanda.

Baca Juga :  Serangan Covid-19 di Era New Normal. Opini Nur Elmiati
Yang kedua kita harus yakin bahwa hidup itu butuh proses. Life is process, hidup itu butuh proses. Inilah yang dijelaskan dalam surah al-Mulk ayat 2 Allazi khalakal mauta wel hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala. Jadi karena hidup itu adalah proses, maka tugas kita adalah berusaha melakukan yang terbaik dalam proses tersebut.

Contoh kalau saya ingin membuat bangunan yang bagus, maka prosesnya harus juga bagus. Mencari tanah yang bagus, maksudnya yang posisinya bagus. Saya cari arsitek yang memang sudah punya kualifikasi bagus, bahannya juga harus berkualitas bagus, serta tukang yang ngerjainnya juga harus ahli, dalam artian profesional. Kalau saya ingin menciptakan bangunan yang berkualitas nomor satu, kita harus menciptakan proses yang nomor satu juga.

Jangan salah dalam berfikir, tugas kita dalam hidup itu bukan berhasil. Tugas kita itu menciptakan proses untuk berhasil. Ini penting bagi kita. Misalnya kita ingin anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Mana ada orang tua yang tidak menginginkan anaknya sholeh dan sholehah. Tugas kita mencari sekolah yang baik untuk anak-anak kita, memberikan rezki yang halal, memberikan contoh teladan yang baik.

Pertanyaannya. Pasti sholeh atau tidak? Jawabannya belum tentu. Nabi Nuh AS, siang malam mendidik anaknya, memberikan contoh teladan yang baik, memberi rezki yang halal. Tetapi apa endingnya, ujungnya, hasilnya? Ketika Ka’anan diajak untuk naik ke atas perahu ayahnya, ia mengatakan, “ayah, saya tidak beriman kepada ajaran yang ayah bawa”.

Sebagai ayah, Nabi Nuh sedih. Lalu Allah SWT berkata kepada Nabi Nuh, “tugasmu melakukan proses yang terbaik. Sudah selesai, Urusan dia mau menerima atau tidak. Mau sukses atau tidak, itu urusanKu bukan urusanmu”. Begitulah cara memahami hidup secara sederhana.

Yang ketiga supaya hidup itu bermakna, hidup itu adalah pilihan. life is choice. itu dijelaskan dalam surah Al-Mulk ayat 23. jadi Allah SWT, itu memberikan akal, fikiran untuk menentukan pilihan. Dalam hidup ini kita diberi tugas untuk selalu memilih yang terbaik menurut fikiran dan perasaan serta nurani kita. makanya kita harus mengunakan fikiran, perasaan, nurani, indra untuk memilih yang terbaik. Kerena kita diberikan kebebasan.

Baca Juga :  Logika Agama, Korelasi Antara Nasib Dengan Takdir
Itu sebabnya didalam ajaran Islam ada yang disebut takdir baik dan takdir buruk. Contoh saya membawa kendaraan yang tua keluaran tahun 1980, lalu kendaraan itu saya kendarai di jalan tol dengan ugal-ugalan, sementara remnya sudah kurang berfungsi, jarang juga kita service akhirnya mengalami kecelakaan. Saya ingin bertanya ini termasuk pilihan saya atau takdir? Jawabannya pasti pilihan karena dengan akal dan fikiran saya tahu persis perbuatan yang saya lakukan amat sangat tidak pantas dilakukan.

Yang ke empat adalah hidup itu adalah komitmen, life is commitment. kalau dalam Agama Islam, komitmen itu adalah istiqamah. Jadi, katanya orang-orang sukses itu rata-rata menggunakan logikanya, imannya, hati nuraninya, untuk memilih dan berkomitmen dengan pikiran tersebut. Katanya, Bill Gate itu pernah dimuat dalam salah satu majalah terkenal di dunia. dan dari halaman awal sampai akhir berbicara tentang Bill Gate. apa kata dia? orang sukses dimuka bUmi ini adalah orang yang punya komitmen.

Yang terakhir atau kelima. Hidup itu adalah tidak abadi, life is temporarly, ada ujungnya. Karena hidup itu tidak abadi, maka kita harus menciptakan hal yang abadi. Jadilah orang yang bisa dikenang kebaikannya, sekalipun kita telah tiada. Dengan cara memperbanyak amal sholeh, membuat karya-karya yang bermanfaat buat orang lain. Seperti para ulama di masa lalu yang tahu persis bagaimana memahami hidup yang fana ini.

Loading...

Baca Juga