oleh

Logika Agama Tentang Takdir, Melawan Takdir VS Merubah Takdir

Logika Agama Tentang Takdir, Melawan Takdir VS Merubah Takdir. Oleh: Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria

Kalau kita mengkaji dan menganalisa kata takdir, menurut beberapa literatur, ternyata tidak dikenal sejak masa Nabi Muhammad SAW. Tidak dikenal pada masa Sayyidina Abu Bakar. Baru ada satu dua orang berbicara tentang takdir, Sayyina Umar melarangnya. Kata Sayyidina Umar, “Endak usah deh berbicara tentang takdir”.

Pembicaraan tentang takdir baru muncul setelah meninggalnya Sayyidina Ali. Jadi cukup lama. Datanglah pembahasan apakah itu takdir? Kalau kita ingin memahami takdir secara komprehensif bukan secara parsial, maka kita harus melihat terlebih dahulu, takdir dilihat dari segi bahasa.

Takdir itu artinya adalah ukuran. Allah SWT berfirman, “segala sesuatu ada ukurannya, kami menurunkan hujan dari langit, dengan ukurannya tidak terlalu banyak sehingga setiap hujan turun itu tidak terjadi banjir”. Allah SWT berfirman, “segala sesuatu kami ciptakan sudah ada ukurannya”.

Baca Juga :  Genosida Srebrenica, Duka Kaum Muslimin Seluruh Dunia

Sebagai contoh yang sangat sederhana, apakah manusia bisa terbang? Tentu jawabannya tidak. Kenapa? karena ada ukuranya. Akan tetapi kalau kita bertanya apakah manusia bisa berjalan? Maka jawabannya sudah pasti kita katakan iya kenapa? Karena sudah ada ukurannya bahwa manusia bisa jalan.

Allah SWT, berfirman didalam Al-Quran, “Dia yang memberi takdir (ukuran) lalu memberi petunjuk, untuk melakukan apa yang sesuai dengan takdir”. Nabi Muhammad SAW bersama dengan shabat-shabatnya yang lain percaya semua ada ukurannya. Tetapi itu tidak menjamin dan menjadikan beliau tidak bekerja, berjuang, berkorban bahkan megalami luka dan meninggal. Dan dalam saat yang sama, berdoa. Tidak pernah ada diantara mereka berkata, “ya udah lah tunggu saja tadir saya”. Karena pemahaman tentang takdir semacam itu sangat keliru.

Yang susah, kalau agama itu dicampuradukkan dengan tujuan politik. Inilah yang terjadi setelah meninggalnya Sayyidina Ali. Sayyidina Ali mati terbunuh lalu digantilah oleh penguasa baru. Mereka lalu berkata, “sebenarnya kami melakukan ini semua karena Tuhan telah menakdirkanya”.

Baca Juga :  Rezim Kardus, Sebuah Opini Muslim Arbi

Kata Syekh Abdul Halim Mahmud, seorang guru besar di Universitas Al-Azhar. Mereka itu menjadikan takdir sebagai alasan dari penganiayayaan mereka. Karena waktu itu dia berkata, “semua sudah ditentukan Tuhan, ini maunya Tuhan, saya tidak bisa berbuat apa-apa”.

Akan tetapi, ada sekelompok orang yang merasa keberatan dengan mengatakan, “masak semua kehendak disandarkan kepada Tuhan?”. Mereka emosi, lalu mengatakan dengan sangat berani, “tidak ada takdir, manusia yang menentukan nasibnya sendiri”.

Pendapat ini juga salah. Buktinya, siapa sih yang tidak mau kaya dan cantik? Tentu semua kita mau. Namun tidak semua kita mampu untuk itu. Kalau demikian, berarti ada intervensi Tuhan. Ada ukuran yang diberikan oleh Allah SWT.

Baca Juga :  Peluncuran Buku Menyemai Kebaikan dan Menebar Kedamaian

Rukun iman yang keenam adalah percaya kepada takdir. Disitu dikatakan, takdirnya yang baik dan yang buruk. Kok kalau cuma tabrakan dianggap takdir? Untung juga itu takdir? Kalau ada orang yang berkata, kalau hal yang negatif itu adalah takdir, lantas yang positif bukan takdir, itu namanya orang yang tidak beradap sama Tuhan. Ada istilah yang dibahas oleh ulama yaitu Qadha dan Qadar. Qadha adalah pengetahuan Alah SWT, menyangkut segala sesuatu sebelum, sedang, dan sesudah kejadian yang ditetapkannya berdasarkan ukuran tertentu.

Sekarang kita bertanya pada diri kita sendiri, bisakah harapan hidup kita ditambah? Jawabannya bisa. Kalau mau panjang usia kita, kata Rasulullah SAW, “barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan dimudahkan rizkinya, maka perbanyaklah bersilaturrahim”. Hadis ini mengajarkan kepada kita semua, bahwa usaha itu dapat menambah harapan hidup.

Loading...

Baca Juga