oleh

Liberalisasi Perfilman, Buat Generasi Kian Terancam. Opini Riska Nur A

Liberalisasi Perfilman, Buat Generasi Kian Terancam. Oleh: Riska Nur Azizah, Siswa MAN 1 Konawe Selatan.

Beberapa hari lalu telah ramai di perbincangkan tentang adanya sinetron terbaru yaitu Dari Jendela Smp (DJS) yang telah tayang perdana pada senin sore,29 juni 2020 pukul 18.25 WIB.

Penayangan sinetron Dari Jendela Smp (DJS) yang diadaptasi dari cerita novel karya Mira W di sebuah stasiun televisi swasta nasional masih menjadi perdebatan publik. Sejumlah warganet menilai, cerita novel terlalu vulgar dan tak pantas diangkat di layar kaca, lantaran terdapat kisah kehamilan diluar pernikahan pada seorang gadis belia.

Menaggapi hal itu, KPI pun menggelar pertemuan dengan perwakilan SCTV selaku stasiun yang menayangkan sinetron tersebut,guna mendapatkan keterangan lengkap tentang sinetron Dari jendela Smp.(Tegar,pada rabu,1 juli 2020).

Sinetron ini seharusnya tidak perlu ditontonkan, bahkan diangkat di layar kaca televisi karena faktanya mengandung konten-konten yang tidak mendidik. Dimana anak SMP yang harusnya mereka fokus menuntut ilmu demi kemajuan bangsa dan negara, justru lebih didominasi dengan adegan percintaan. Bukan tak mungkin jika nantinya film tersebut akan ditiru oleh generasi muda.

Baca Juga :  Ketika Dunia Melihat Kita. Opini Lulu Nugroho

Miris sekali, inilah buah dari liberalisme sehingga berbagai konten tak layak pun mampu lolos ke dunia perfilman, bahkan tayang di layar kaca yang para penikmatnya tak dapat disesuaikan, tua, muda bahkan anak-anak dapat menjadi sasaran penontonya. Padahal, sejatinya film DJS mampu merusak generasi muda.

Dalam sistem sekuler saat ini, dunia perfilman menjadi salah satu ajang bisnis, apalagi jika film tersebut banyak peminatnya. Jelas apapun itu, akan bisa lolos layar kaca. Bahkan, jika flim tersebut merusak generasi pun, mereka tidak akan mementingkan/memperdulikanya sedikitpun dampak bagi remaja bahkan anak-anak yang melihat tayangan dari film tersebut.

lantas apa yang terjadi jika generasi muda yang nantinya akan menjadi penerus bangsa dan menjadi pendobrak kegemilangan malah menjadi perusak negerinya sendiri yang diakibatkan mereka banyak dicekoki oleh film-film drama percintaan yang semakin lama seperti tak disaring hingga tayang di layar kaca.

Sungguh miris bukan??
Masa depan generasi muda seakan tidak penting dan tidak berharga sedikitpun, sehingga mereka lebih mementingkan bisnis dan keuntungan yang mengenak-kan mereka sendiri tanpa mementingkan orang lain. Padahal mereka pun tau bahwa masa depan negara berada di pundak generasinya.

Baca Juga :  Santri, Ulama dan Negarawan, Sebuah Opini Tubagus Soleh

Seharusnya mereka juga tau bahwa saat ini segala tontonan akan menjadi tuntunan bagi remaja. Mereka bisa saja menirukan semua yang telah mereka lihat tanpa berfikir baik tidaknya hal tersebut. Karena dikalangan remaja, ada yang tidak mampu menyaring sebuah tontonan.

Di sisi lain negara seakan lepas dalam tanggung jawab atas masalah ini, penguasa yang seharusnya menjadi pengontrol sebuah media, justru menyerahkannya pada asing/ swasta. Sehingga mereka tidak menyaring terlebih dahulu berbagai tontonan untuk ditayangkan ke layar kaca televisi masyarakat. Pun seharusnya mereka juga mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika film ini benar-benar akan tayang kedepannya.

Yang ada dalam diri mereka seakan hanya keuntungan lah yang terpenting, masalah generasi urusan belakang. Inilah suatu hal yang diinginkan oleh sistem kapitalisme yang dimana keuntungan segalanya. Semua yang akan memberikan keuntungan akan mereka jadikan bisnis meskipun itu merugikan orang lain.

Baca Juga :  RSUD Ryacudu Lampung Tandatangani Nota Kesepahaman Dengan Pegawai

Dari sini sangatlah jelas bahwa hanya Islam lah yang mampu mengatur segala problematika umat dengan segala aturan yang bersumber dari Allah.

Dan hanya Rasul-lah yang mampu menjadi panutan bagi kita terutama bagi generasi muda dengan segala rasa cintanya kepada sang Pencipta hingga mampu membawa kegemilangan umat. Yang perlu kita tau juga bahwa Islam telah memuliakan mereka (generasi muda) karena mereka adalah orang yang lebih mudah untuk menerima kebenaran, serta mengikut jalan petunjuk dibandingkan dengan orang yang sudah lanjut. Karena itu yang paling banyak menerima seruan Allah dan Rasul-nya adalah mereka para generasi muda.

Tak hanya itu, dalam Islam media dijadikan sebagai ajang untuk menyerukan dakwah, memberikan yang berfaedah, memberika berita-berita akurat yang mempu menjadikan rakyatnya menuju kepada kecintaan kepada sang Maha Segalanya.

Media pun dalam kendali negara. Jika ada flim-flim atau konten yang dapat merusak rakyat, trritama generasi, maka jelaslah negara memberikan sanksi tegas. Wallahu A’alam Bisshawab

Loading...

Baca Juga