oleh

Pencitraan Tidak Mengatasi Masalah Bangsa

Pencitraan Tidak Mengatasi Masalah Bangsa, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi Ana, Pengamat Sosial Politik.

Kita semua pengen lihat Indonesia maju. Kita butuh kepemimpinan yang bisa menginspirasi, memberi arah dan mengorganisasikan sumberdaya kita menuju kesana.

Tapi maaf sekali, hari-hari ini saya kok tidak lihat itu. Jika semua problem dianggap tidak ada, lalu apa yang kita harapkan? Kelar gitu semua urusan kalau sudah lihat pak Jokowi nari-nari pakai sarung tinju? Please deh.

Belakangan muncul di berita, Pertamina mengeluarkan gas non-subsidi yang 3 kilogram. Lalu di pasar makin susah untuk mendapatkan gas 3 kilogram yang bersubsidi. Mau ngomong apa sama orang-orang yang selama ini menggunakan gas 3 kilogram bersubsidi?

Ya barangkali yang kau ributkan adalah kebodohan orang-orang yang menuduh pemerintah menaikkan harga BBM diam-diam saat orang-orang tidur. Okelah mereka itu mesti belajar lebih benar. Tapi faktanya, ya tidak berubah. Kenaikan harga pertamax itu akan memicu domino effect. Jadi sudah bikin rencana apa coba untuk mengatasi domino effect?

Perekonomian stagnan itu mesti diakui. Tapi lalu ditutup sama foto-foto pencitraan. Bebas! Sakkarepmuh! Tapi, berlaku seolah semuanya baik-baik saja itu telah mengantarkan kita kepada nilai tukar kurs sebesar 15, sekian/1$ hari kemaren.

Lha terus, mau dibawa sampai angka berapa? Ahh katamu, makan di warteg tidak pake dollar kok, hahahaha. Ya seterah sih, tapi gegara kenaikan dollar kan berimbas pada nilai tukar rupiah jadi nyungsep! Duwit rupiah jadi tidak ada nilainya.

Loading...

Baca Juga