oleh

Buah Simalakama Import, Sebuah Opini Malika Dwi Ana

Buah Simalakama Import, catatan kecil pojok warung kopi ndeso. Oleh: Malika Dwi AnaPengamat Sosial Politik

Tidak ada satupun negara di dunia ini yang mampu memenuhi 100 persen kebutuhannya sendiri. Ini motif mendasar dari import. Maka dalam sebuah negara bangsa, impor bukanlah ideologi yang harus diterapkan sepanjang masa/tahun oleh pemerintah. Karena hakikat impor ialah mengendalika mekanisme pasar (supply and demand) tatkala harga-harga mencekik leher rakyat.

Impor juga bertujuan mengendalikan harga dan sifatnya temporer, sewaktu-waktu, kecuali beberapa komoditi yang tidak ada di Indonesia, atau komoditas yang produksinya sedikit seperti minyak, gandum dll. Demand (permintaan) besar, tapi supply (persediaan) dalam negeri kecil tidak mencukupi atau tidak ada. Maka lalu dilakukan import.

Bedanya dengan ekspor adalah, import itu menggunakan cadangan devisa, barang masuk dari luar, sedangkan ekspor sebaliknya, barang keluar dibeli oleh negara lain, kemudian mendatangkan pemasukan untuk negara. Import berlebihan, berarti mengandung konsekuensi demand lebih kecil dari supply akibatnya harga komoditas turun.

Inilah tujuan awal impor, untuk melindungi rakyat. Negara hadir di publik baik untuk melindungi para petani maupun rakyat selaku konsumen. Sekali lagi, impor bukanlah ideologi tetapi kebijakan negara melalui aparaturnya (pemerintah) guna menjaga keseimbangan terkait hajat hidup orang banyak jika mengacu pada tujuan diatas.

Anehnya, ketika impor dilakukan, mestinya supply barang melimpah, namun harga-harga kok tetap saja mahal. Atau petani lagi panen raya tetapi pemerintah justru impor komoditi yang tengah dipanen oleh rakyatnya? Bingung to? Podho.

Mesti diingat bahwa impor pada level tertentu bisa melumpuhkan bahkan mematikan produksi lokal.

Pertanyaannya, kenapa export barang-barang mentah atau bahan baku. Lalu import produk-produk setengah jadi, barang jadi dan barang luxury di lain sisi. Coba buka DIGITAL DASHBOARD INDONESIA, dibalik angka-angka dan grafik-grafik indikator ekonomi, bisa menjelaskan banyak hal pada kita misal cadangan devisa terus tergerus. Misal kebutuhan hanya 1000 kok mendatangkan 3000. Sudah gitu nekad dan niat banget impor.

Ya layaknya makelar yang kerjaannya ambil fee dan selisih harga. Curiga saja bahwa kepentingan broeker, makelar atau blantik import itu soal cicilan panci mereka yang belum kunjung lunas. Juga neraca perdagangan jadi tidak imbang.

Maka jenis impor terakhir itu, mirip tagline di setiap bungkus rokok: “.. rokok membunuhmu.. ” Mending sih kayak lagu; “Cinta ini Membunuhku”. Jika kebingungan pemerintah saya analogikan seperti buah simalakama, mau terus dimakan, Ibu Pertiwi Mati. Gak dimakan, buzzer-buzzer kesayangan yang mati. Jadi gimana? Mau terus dikunyah dan dimakan, ataukah mau dilepeh?! Mbuh.

Fundamental ekonomi kita terpukul akibat impor ugal-ugalan justru disaat petani sedang panen raya. Sungguh ironis! Your eyes! “Matamu”, kata Buwas ketika berdebat secara online dengan Menteri Enggar, gegara mendesak gudang Bulog yang sudah penuh untuk menampung besar impor. Logika bodohnya, kenapa harus impor beras disaat petani sedang panen raya. Bukan soal ada fee bagi oknum pejabat terkait impor, itu sudah lazim di dunia bisnis. Tetapi itulah drama satu babak di negeri ini yang bertajuk: “Tikus Mati Kelaparan di Lumbung Padi”.

Loading...

Baca Juga