oleh

Strategi Memilih Wakil, Prabowo Handal, Jokowi Lihai

Strategi Memilih Wakil, Prabowo Handal, Jokowi Lihai (Membaca tangguhnya pertahanan kedua capres). Oleh: KH Imaduddin Utsman, Waketum Babad Banten Nasional.

Politik identitas yang semakin terang benderang ditampilkan pendukung pasangan calon 02. Terutama narasi yang dibangun di medsos dan terakhir yang ditampilkan dalam kampanye di GBK. Yang sempat viral surat SBY yang keberatan dengan cara kampanye, yang menurutnya tidak lazim itu. Menurut hemat penulis ada kaitan dengan cara capres masing-masing dalam memilih cawapres.

Jokowi yang memilih seorang Kyai Makruf Amin (KMA), menurut hemat penulis, sangat cerdas dan lihai. Sementara Prabowo memilih Sandi Uno, sangat handal. Kenapa begitu?

Pertama, Jokowi menyadari betul siapa ‘musuh’ politiknya selama ia menjabat Presiden. Selain tentunya Prabowo yang dikalahkannya pada pemilu 2014. Selama ia menjabat, banyak bermunculan ‘musuh-musuh’ baru yang merasa dirugikan oleh kebijakannya. Mulai dari ASN yang merasa pengawasan dan regulasi Jokowi terhadap ASN begitu ketat. Pengusaha yang selama ini menikmati berbagai macam keistimewaan. HTI yang dibubarkan. FPI yang merasa penegakan hukum chat mesum Ustad Rizieq sebagai kriminalisasi. Kelompok islam puritan dari kaum Wahabi yang menilai pemerintahan Jokowi begitu dekat dengan NU dan sebagainya.

Dari ‘musuh-musuh’ itu tentunya yang paling berbahaya adalah musuh yang membawa lambang identitas agama. Selama ini mulai dari kampanye 2014 sampai memasuki penetapan calon presiden 2019 bahkan sampai saat ini, Jokowi masih diserang oleh isu-isu bahwa ia non muslim, keturunan PKI, antek Cina dan sebagainya. Pada 2014 itu kelompok HTI, FPI dan Wahabi belum masuk barisan Prabowo. Tetapi serangan identitas itu sudah masiv, apalagi ketika tiga elemen yang merasa dirugikan Jokowi ini bersama Prabowo, tentunya akan semakin sangar.

Geliat serangan itu sudah mulai nampak ketika aksi 212 dimanfaatkan dengan baik oleh pendukung Prabowo untuk mendekati kelompok islam puritan ini dan berhasil memenangkan Anis sebagai Gubernur DKI. Kemudian pembubaran HTI. Juga bisa dimanfaatkan oleh kubu Prabowo sebagai indikasi pemerintahan Jokowi sebagai anti Islam.

Ditambah kasus-kasus hukum Ustad Riziq yang banyak itu, kemudian bisa di masak sebagai hidangan bahwa Jokowi mengkriminalisasi ulama. Serangan itu semakin terang ketika diselenggarakan ijtima ulama oleh kubu Prabowo. Untuk melegalkan secara sah bahwa Prabowo adalah betul-betul calon Presiden repsentasi ulama dan Islam. Diputuskanlah dalam ijtima itu Prabowo sebagai capres dan Ustad Salim Segaf atau Ustad Somad sebagai cawapres.

Baca Juga :  Mengamini Optimisnya Kyai Makruf Amin, Sebuah Opini Tubagus Soleh

Namun Prabowo rupanya punya pertimbangan lain yang akan saya sebutkan dalam bagian yang membahas kehandalan Prabowo memilih wakil. Intinya, hasil ijtima yang merekomendasi cawapresnya dari ulama ditolak Prabowo dan ia malah memilih Sandi yang bukan ulama sebagai cawapresnya.

Jokowi kemudian dengan lihai menetapkan Prof. DR KH. Maruf Amin sebagai cawapresnya. Dengan meminggirkan beberapa nama beken yang digadang-gadang sebagai cawapresnya. Jokowi, penulis nilai hampir sekelas Gusdur dalam membaca apa yang akan dihadapi. Terbukti pilihan Jokowi sangat tepat untuk menjadikannya sebagai pemenang suara sampai saat ini versi puluhan lembaga survei yang kredibel.

Jokowi telah mampu menyeret NU secara otomatis dalam “medan perang” pilpres 2019. Jokowi telah betul-betul membuat Ustad Riziq cs kelimpungan. Disatu sisi Ustad Riziq cs yang merekomendasikan ulama sebagai cawapres Prabowo ditolak mentah-mentah. Di sisi lain, ia tidak mungkin mendukung Jokowi karena sudah banyak kritik pedas bahkan hinaan fisik yang ia lontarkan untuk Jokowi.

Aksi 212 yang digagas Ustad Riziq cs juga sebenarnya adalah mengawal fatwa MUI, dimana KMA sebagai ketua umumnya. Lalu ketika KMA dipilih Jokowi sebagai wakilnya, ini adalah sekali dayung dua pulau terlampaui. Pulau pertama adalah kesan yang selama ini dibangun Ustad Riziq cs, di mana Jokowi sebagai anti ulama dan anti Islam.

Lalu justru Jokowi memilih wakil ulama, sementara Prabowo yang dihasilkan ijtima ulama tidak mau menjadikan ulama sebagai wakilnya. Lalu yang anti ulama siapa? Pulau kedua adalah sosok KMA adalah illat dan sabab adanya gerakan 212 yang bernama GNPF-MUI. Lalu ketika sebab itupun menjadi wakil Jokowi, secara logis gerakan 212 itu sudah kehilangan standar-etis.

Yang penulis anggap Jokowi lihai lagi adalah ketika ulama yang dipilih, adalah KMA yang merupakan tokoh besar NU sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia. Mau tidak mau legalitas kubu Prabowo yang mengaku didukung ulama menjadi buyar. Ketika berhadapan dengan kekuatan NU dengan jamaah yang menurut Alvara research yang mengadakan survei tahun 2017, umat Islam Indonesia 150 juta jiwa menyatakan dirinya NU.

Prabowo kalang kabut ketika Jokowi mengumumkan KMA sebagai wakilnya. Tidak mungkin Prabowo mengambil Ustad Salim Al Jufri sebagai wakil yang seorang PKS. Akan selesai pertarungan sebelum bertanding. Nahdliyyin pasti seratus persen akan ke kubu Jokowi. Tidak mungkin juga Prabowo mengambil Ustad Abdul Somad (UAS), selain UAS sendiri dikabarkan menolak. Tentu Prabowo akan mencari wakil yang minimal diakui ke-Nu-annya oleh Nahdliyyin, sementara UAS jejak digitalnya dekat dengan HTI.

Baca Juga :  Politik Optimis Jokowi, Sebuah Opini Tubagus Soleh

Kelihaian Jokowi memgambil KMA sebagai wakil kini terbukti. FPI yang dalam amaliyah ada kemiripan dengan NU selama ini bebas bergerak ke kantong-kantong NU kultural seperti DKI, Jabar dan Banten. Semboyan FPI anak NU, NU rumah besar aswaja, yang dikenalkan Ustad Riziq kepada masyarakat telah membuat masyarakat Nahdliyyin tertarik. Terutama video-Video Ustad Riziq yang membantah wahabi yang viral di youtube, telah membuat Nahdliyyin berkesimpulan bahwa memang FPI anak NU dan akhirnya mengkristal bahwa FPI sama dengan NU.

Namun ketika Jokowi mengambil KMA sebagai wakilnya, mulai nampak bahwa FPI memang bukan NU. FPI tidak sama dengan NU. Kalau FPI itu anak NU, tentu FPI akan sama bahagianya dengan Nahdiyyin lainnya untuk mendukung KMA. FPI semakin terjebak ketika FPI berpikir bahwa kekuatan Jokowi ada di KMA, maka KMA harus dijadikan target untuk digerogoti kredibiltasnya.

Penulis memperhatikan di medsos, para simpatisan FPI menyerang pribadi KMA dengan masiv. Nahdiyyin yang menyadari itu kemudian tersadar mereka sedang diserang oleh ormas yang mengaku anak NU tersebut. Akhirnya apa yang dilakukan FPI itu menjadi demarkasi antara mereka dengan NU.

Mulailah tokoh-tokoh NU menyuarakan bahwa FPI bukan NU. Suara itu didengar sebagian Nahdliyyin yang kadung masuk FPI, sehingga ia menyatakan keluar dan sebagian lainnya sudah betah tinggal di FPI. Tapi minimal imbas Jokowi mengambil KMA sebagai wakil akan mempersempit gerak langkah FPI yang terjebak dalam politik tingkat tinggi Jokowi. Sehingga tentu imunitas komunal dari NU akan dilakukan untuk menjaga warganya agar tidak menyeberang ke FPI.

Seandainya hari ini yang menjadi wakil Jokowi Mahfudz MD atau yang lain, mungkin pemilu sudah selesai dengan kemenangan Prabowo. Terakhir kampanye Prabowo di GBK yang cukup besar itu di hadapi biasa-biasa saja oleh Jokowi. Karena seluruh tokoh NU ada dibarisannya.

Tidak aneh kampanye Prabowo dihadiri banyak orang karena dikubu Prabowo ada FPI, PKS dan HTI yang biasa berdemo dan militan dalam aksi. Hari ini, ada acara disatu titik, besok harus hadir dititik lain mereka akan datang. Tentu dengan gaya mereka yang khas, ditambah dengan masa partai pengusung dan pendukung lainnya.

Baca Juga :  GPI Desak Presiden Ganti Menteri Agama Pada Reshuffle Kabinet

Namun kekuatan mereka sudah bisa diperhitungkan. Kunci kemenangan Jokowi hari ini adalah Jokowi telah berhasil meyakinkan Nahdiyyin bahwa ia sangat menghomati NU dan Nahdiyyin. Sehingga dapat kita rasakan, baru pada pemilu ini sejak NU tidak menjadi parpol geliat nahdiyyin dalam politik begitu semangat dan semarak.

Dan nasib FPI, menang atau kalah Prabowo tidak akan bisa masiv menambah anggota. Karena seperti yang saya telah kemukakan, NU telah bersiap membuat imunitas komunal terhadap warganya. Itulah point point yang saya maksud bahwa Jokowi sangat lihai dalam memainkan ranjau politik untuk musuhnya saat ini, dengan memilih KMA sebagai wakil.

Kedua, Prabowo juga menurut penulis sangat handal membaca peta politik dengan mengambil Sandi Uno. Bayangkan bila Ustad Salim al jufri yang dipilih tentu tidak akan ada beberapa orang NU yang menyebrang ke Prabowo yang bisa dijadikan citra bahwa Prabowo juga tidak anti Nahdiyyin. Begitu pula UAS, ia memiliki rekam jejak digital kedekatan dengan HTI. Walaupun belakangan sudah dibantah oleh UAS sendiri.

Tentu jika UAS yang dipilih lawan, akan begitu mudah membombardir Prabowo dengan isu HTI yang lebih dari sekarang ini. Muhammad al khothot atau Gatot yang menjadi pendukung inti Prabowo adalah salah seorang aktifis awal HTI di Indonesia. Tentunya akan ditarik benang merah antara dirinya dan HTI, apalagi misalnya UAS yang menjadi wakil tentu lebih parah.

Selain faktor identitas dan warna keagamaan, di mana Sandi, walau bukan NU totok tapi ia juga bukan FPI, HTI atau PKS. Sehingga bisa diharapkan Sandi dapat diterima pula oleh waga NU. Pemilihannya sebagai wakil pula bisa mengisi kekosongan Prabowo dalam kurangnya finansial. Dimana Sandi dikenal banyak mempunyai bekal untuk persiapan kampanye dan sebagainya.

Prabowo yang beberapa bulan sebelum pendaftaran kelihatan ragu mencalonkan diri karena berbagai hal. Ditambah banyaknya pengamat yang banyak membaca, ia tidak akan bisa bertahan melawan Jokowi, terbukti saat ini. Dengan memilih Sandi, Prabowo bisa eksis melawan petahana. Dengan perlawanan yang menurut penulis di luar ekspektasi publik.

Walaupun memang sampai 7 hari sebelum pencoblosan suara, Prabowo masih 18% di bawah Jokowi. Namun bila bukan Sandi wakilnya, mungkin Prabowo sudah dilibas kekuatan politik Jokowi. Demikianlah pengamatan penulis tentang cerdasnya kedua capres ini dalam memilih wakil. Wallahu alam bishsawab.

Loading...

Baca Juga