oleh

KH Makruf Amin Bersama PWNU Banten Tasyakuran Pemilu Damai

SUARAKEADILAN – Pasca pilpres, PWNU Banten mengajak keluarga besar Nahdliyin di wilayah Banten untuk Silaturrahim bersama KH. Ma’ruf Amin dalam Rangka Tasyakuran Atas Terselenggaranya Pemilu Damai, Sabtu (27/04/2019) mulai pukul 13:00 WIB.

Acara ini dihadiri oleh PWNU Banten dari jajaran Mustasyar, Syuriyah, Tanfidziyah, lembaga dan Banom. Acara ini diadakan untuk konsolidasi, sosialisasi dan revitalisasi gerakan NU di wilayah Banten. Tasyakuran dimulai dengan membaca Yasin, dan doa bersama yang dipimpin oleh KH. Hariman Anwar. Turut hadir Waketum Babad Banten Nasional KH Imaduddin Utsman dari Kresek.

“Acara ini sangat penting untuk menjalin ukhuwah antar Nahdliyyin. PWNU Banten sudah maksimal untuk mendukung Kyai Ma’ruf Amin (KMA). Mantan Rais Am PBNU yang juga putra Banten ini. Namun kenyataannya masyarakat masih banyak yang belum memahami arti KMA bagi kemajuan dan nama baik Banten. Aktsaruhum la ya’lamun,” kata ketua panitia, KH Sardani.

Rais Syuriyah PWNU Banten, KH.TB. Hakim dalam sambutannya mengatakan bahwa pilpres kali ini adem, tidak ada kendala yang berarti. Nahdliyyin tetap menjaga kondusivitas.

Baca Juga :  Pahami Islam Wasathiah Agar Tidak Terjebak Faham Radikal

“Kalau ada satu dua yang tidak puas, itu wajar-wajar saja. Yang kalah biasanya yang tidak puas, atau al-Hasud. Wa al-Hasud la yasud, wa lan yanalu al-Maqsud wa lau bi ghayati al-Juhudi al-Maujud,” jelasnya.

KH. Bunyamin, Ketua Tanfidziyah menambahkan, bahwa sebenarnya pengurus merasa malu dengan hasil yang belum sesuai harapan di Banten. Pengurus sudah bergerak maksimal melalui pengajian, istighotsah, madrasah kader dan lain-lain. Alhamdulillah secara nasional KMA menang.

“Selama ini bunyi doanya Nahdliyyin di Banten memang “semoga KMA dan Pak Jokowi menang”. Bunyinya bukan “semoga KMA menang di provinsi Banten“,” kata KH Bunyamin.

Foto Bareng KH Makruf Amin Bersama PWNU Banten Tasyakuran Pemilu Damai

Pada tasyakuran yang digelar PWNU Banten ini, KMA menyampaikan materi Gagasan Kebangsaan. Dalam pidato kebangsaannya, KMA menyampaikan poin-poinnya sebagai berikut:

1. Pemilu kali ini aman, tidak sampai berdarah-darah seperti di Timur Tengah.
2. Adalah mustahil jika berharap agar semua orang menyukai kita. Ridha an-Nasi ghayatun la tudraku.
3. Saya ini belum boleh dipanggil “wapres”, karena belum dilantik, dan kita perlu sabar menunggu pengumuman resmi dari KPU.
4. NU kali ini utuh baik kultural maupun struktural.Nashbu al-Imam hukumnya wajib menurut Syariat Islam, sedangkan secara konstitusi, adalah hak bagi setiap warga negara. Berarti Nahdliyyin sudah melakukan kewajiban dan menunaikan haknya sebagai warga negara yang baik.
5. Di mana NU-nya maju, maka di situ kita (baca: 01) menang mutlak. Di Banten dan Jabar, kita bukan kalah, tapi belum menang. Sebab itu, NU perlu hidup di semua lini, dan itu tidak bisa instan, perlu waktu dan perjuangan dari semua Nahdliyyin. Jangan sampai NU itu “mabniyyun ala as-Sukun…la mahalla laha mina al-I’rab
6. Setiap kita meliki mas’uliyyah diniyyah dan mas’uliyyah wathaniyah,baik dapat posisi atau tidak, ketika di dalam maupun di luar pemerintahan, NU akan tetap mengawal NKRI. Karena itu prinsip. NKRI, Pancasila adalah solusi kebangsaan dalam menghadapi kemajemukan.
7. Ulama NU diajak, dipersilahkan untuk ikut menata kehidupan berbangsa. Tidak diajak saja kita siap mengawal NKRI, apalagi diajak/diminta.
8. Banten harus dirobah. Pemikiran NU itu produk pemikiran Syeikh Nawawi, lalu diejawantahkan oleh Hadratus-syeikh Hasyim Asy’ari dalam Qanun Asasi, tentang ijtihad, madzhab dll. Fikrah NU itu tatawwuriyan, tawassutiyan wa manhajiyyan.
9. Tugas kita bersama adalah menjaga keutuhan bangsa ini.
9. Mempercepat dan meng-akselerasi kesejahteraan,-agar dapat dirasakan oleh semua komponen bangsa ini secara merata tanpa kecuali. Merobah masyarakat dari middle income menjadi high income. Inilah tugas berat bagi kita semua, khususnya bagi kami yang sedang siap-siap diberi amanat sebagai wapres.

Baca Juga :  Reskrim Polsek Kembangan Ringkus Pelaku Curanmor
Sementara itu KH. Sukron Makmun memuji sikap KMA yang dianggapnya sangat bijaksana. Tidak ada kesan kekecewaan dalam sikap maupun pidatonya.

“Betul-betul ulama yang bijak, mengayomi dan penuh kasih sayang,” katanya.  (TMS)

Loading...

Baca Juga