oleh

Logika Agama Ketika Al-Quran Membahas Hebatnya Ilmu dan Teknologi

Logika Agama Ketika Al-Quran Membicarakan Hebatnya Ilmu dan Teknologi Oleh: Ustad Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria.

Ketika Nabi Sulaiman AS diminta agar singgasana Bilqis dipindahkan dari Saba’ ke Al-Quds, dia berkata siapa diantara kalian yang sanggup memindahkan singgasana Bilqis. Ifrit dari golongan jin angkat tangan, saya siap mendatangkannya atau memindahkannya sebelum engkau bangkit dari tempat dudukmu. Hebat. Jarak lebih dari 2000 kilometer.

Tapi ada seorang manusia biasa, orang yang punya ilmu dari Al-Kitab. Dia berkata, “Tuan, saya siap memindahkannya sebelum engkau berkedip”.

Kata para ahli tafsir, manusia itu bernama Asif Bin Barkhiya. Sedang apa al-quran ini? Al-quran sedang membicarakan tentang hebatnya ilmu dan teknologi. Jarak lebih dari 2000 kilometer Saba’ Al-Quds, diselesaikan dalam jangka waktu yang sangat singkat.

Tapi ada lagi pekerjaan yang hebat, Dzulkarnain AS. Tatkala dia datang menjelajah, kaumnya berkata “Tuan, bisakah atau perlukah Tuan saya bayar supaya Tuan membuatkan benteng sekat antara kami dengan Ya’juj?”. Apa kata Dzulkarnain AS? “Tidak perlu kalian membayar saya, apa yang Allah SWT telah berikan kepada saya, lebih baik dari pada yang akan kamu berikan kepada saya. Bantu saja saya dengan kekuatan,” kata Dzulkarnain AS. Katanya, dinding-dinding itu tingginya kurang lebih 100 meter. Cuma disini tidak disebutkan bagaimana prosesnya, berbeda dengan singgasana Balqis.

Setelah Asif Bin Barkhayah berhasil memindahkan singgasana Balqis, tatkala singgasana itu hadir, tentu saja dia menjadi orang hebat dengan ilmu itu. Tapi apa yang terjadi? Dia katakan “hadza minfadli rabbi (ini sebahagian karunia rabku)”. Dia tidak melihat kehebatan dirinya yang luar biasa. Kehebatan ilmunya itu menembus, melihat indahnya kebesaran Allah SWT. Sehingga luluh semua kehebatannya. “Ini hanya sebahagian karunia rabku,” begitu katanya.

Begitu juga Dzulkarnain AS ketika berhasil hebat membuat dinding yang terbuat dari baja. Tatkala sudah berhasil, dia hanya mengatakan, “haza rahmatum mirrabbi (ini adalah rahmat dari rabku)”. Kehebatannya langsung menembus, melihat besarnya keagungan Allah SWT.

Maka kata Imam Syafi’i, “arfaunnasi kadran malla yara kadrah (manusia tertinggi derajatnya adalah orang yang tidak mampu melihat derajatnya sendiri)”. Sebab tatkala melihat dirinya lebih, langsung melihat yang lebih dibelakang dirinya. Keagungan Allah SWT.

Ini fakta yang al-Quran bicarakan. Al-Quran juga membicarakan fakta lain, Qarun. Ia diberi kekayaan yang jangan kata gudangnya, kunci-kunci gudangnya saja tidak dapat dipikul oleh orang yang besar dan kekar. Tapi tatkala dikatakann kepada Qarun, “kamu jangan berbangga diri”, apa jawab Qarun? “Tidak, saya peroleh harta ini karena saya punya ilmu”.

Waduh, disinilah bedanya dengan Dzulkarnain AS dan Asif Bin Barkhaya. Apa yang terjadi ketika Qarun sudah merasa hebat dan sombong? Setelah ia menguasai ilmu dan teknologi? “Lantas Kami amblaskan dia dan rumahnya ke dalam bumi,” kata Allah SWT. Maka tak satupun manusia yang bisa menolongnya. Tidak juga ilmu dan teknologi yang ia kuasai.

Bukan ini saja al-quran membicarakan tentang kesombongan karena ilmu dan teknologi di masa silam. Masih banyak yang lain. Seperti kisah Firaun, kaum Tsamud dan kaum ‘Ad. Bahkan kaum ‘Ad setelah berhasil membuat bangunan-bangunan yang megah, mereka berkata, “siapa yang lebih kuat dari kami?”. Apa yang terjadi ketika kaum ‘Ad merasa hebat dan sombong? akhirnya dihempas kehebatannya dengan angin topan yang terjadi selama tujuh malam delapan hari, sehingga tak tersisa seorang pun.

Loading...

Baca Juga