oleh

Mencegah Krisis Ekonomi Global. Opini Novita Ekawati

Mencegah Krisis Ekonomi Global. Oleh: Novita Ekawati, Pemerhati Sosial.

Pandemi Covid-19 telah mengubah dunia secara dramatis. Dari masalah kesehatan kemudian berkembang ke krisis ekonomi global. Namun pada faktanya krisis ekonomi sudah terjadi berulang, jauh sebelum pandemi Covid19, dimana akar masalah dari krisis yang terjadi adalah akibat diterapkannya sistem Kapitalisme Sekuler dengan berbagai derivatnya.

Berikut faktor-faktor penyebab terjadinya krisis ekonomi dan keuangan :
1) Perilaku buruk pelaku ekonomi.
Seperti keserakahan, individualis, hedonisme, spekulasi, dan kecurangan.
2) Peristiwa eksternal (eksogen).
Bencana alam, wabah penyakit, sistem moneter internasional, ketidakstabilan politik dan sosial.
3) Tata kelola yang buruk.
Administrasi yang buruk, korupsi, kontrol harga, kurangnya regulasi, kurangnya pengungkapan, serta tidak tepatnya dalam menempatkan atau memposisikan karyawan.
4) Sistem moneter/keuangan yang tidak stabil.
Adanya sistem bunga ribawi, uang kertas, sistem perbankan cadangan fraksional, sistem leverage, derivasi produk dan penciptaan kredit melalui kartu kredit.
5) Sistem fiskal yang tidak berkelanjutan.
Terjadinya defisit fiskal yang tidak berkelanjutan, pajak yang berlebihan, utang negara yang berlebihan, pengeluaran yang berlebihan, manajemen persediaan komoditas strategis yang buruk dan sistem fiskal yang tidak efektif.

Baca Juga :  Logika Agama Abu Jahal, Krisis Iman VS Krisis Ekonomi

Berdasarkan lima faktor penyebab utama krisis ekonomi, maka upaya yang dapat dilakukan adalah :

1.Mengubah perilaku buruk pelaku ekonomi.
Pelaku ekonomi harus hidup dalam suasana keimanan yang kokoh, yang tidak terpengaruh dengan hal-hal yang bertentangan dengan agama. Berteman dengan orang-orang yang shalih, dimana teman yang baik akan menjauhkan diri dari berbuat maksiat. Selalu mendekatkan diri kepada Allah swt, dengan mempelajari ayat-ayatNya dan menggali ilmu-ilmuNya.

2.Tata kelola pemerintahan yang yang berlandaskan pada keimanan dan ketakwaan pada Allah swt.
Politik ekonomi yang benar dan berlandaskan pada keimanan akan mampu menjamin pemenuhan pokok setiap warga negaranya, baik Muslim maupun non Muslim.

3.Kestabilan sosial dan politik.
Negara akan melaksanakan dan memantau perkembangan pembangunan dan perekonomian dengan menggunakan indikator-indikator yang menyentuh tingkat kesejahteraan masyarakat yang sebenarnya, bukan hanya pada pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan indikator ekonomi tidak dapat dilepaskan dari indikator sosial dan hukum.

Baca Juga :  Kepala Kantor Kementerian Agama Wajo Lantik Pejabat Struktural

4.Kestabilan sistem moneter.
Ada dua cara untuk menstabilkan moneter :
a. Mengubah dominasi dolar dengan sistem moneter berbasis dinar dan dirham. Hal ini dikarenakan sepanjang sejarah dinar dan dirham merupakan alat tukar yang adil bagi semua pihak, memiliki nilai yang stabil dan terukur jelas.
b. Mengganti perputaran kekayaan di sektor non-riil atau sektor moneter yang menjadikan uang sebagai komoditas,.ke arah sektor riil.

5.Menstabilkan sistem fiskal.
Negara melakukan politik dalam negeri dan politik luar negeri yang berlandaskan aqidah Islam, termasuk pengelolaan sumber daya alam. Negara juga harus kuat dari sisi militer sehingga mampu mencegah upaya negara-negara imperialis yang mau menguasai negara maupun sumber daya alamnya. Negara mengelola dan menguasai sepenuhnya sumber daya alam untuk digunakan sepenuhnya oleh rakyat-rakyatnya.

Baca Juga :  Logika Agama, Korelasi Antara Nasib Dengan Takdir

Kebaikan dan kesempurnaan politik ekonomi di atas tidak akan mungkin terwujud dalam sistem Kapitalisme Sekuler saat ini yang akan terus mengancam pada hancurnya tatanan ekonomi lokal maupun global. Hanya Politik ekonomi Islam yang mampu membawa ummat keluar dari keterpurukan ini.

Wallahu a’lam bisshawab

Loading...

Baca Juga