oleh

Logika Agama Usaha Sistematik Untuk Menggerus Nilai-Nilai Keislaman

Logika Agama Usaha Sistematik Untuk Mengerus Nilai-Nilai Keislaman. Oleh: Ustad Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria.

Dari pengamatan kita sehari-hari, terlihat ada usaha sistematik untuk menggerus nilai-nilai keislaman. Teorinya amat sederhana “longgarkan aqidah seorang muslim kecilkan komitmenya terhadap nilai-nilai keislaman, maka akan mudah menggeser seorang muslim dari Islamnya”. Teori sederhana ini biasanya dimulai dengan langkah awal untuk menyakinkan bahwa Islam ini adalah aturan untuk diri sendiri, orang lain itu urusan mereka sendiri.

Dimulai langkahnya dari membentuk diri yang sholeh, tetapi tidak membuat lingkungan yang sholeh. Usahanya, jadilah orang yang baik tetapi tidak berdampak pada lingkungannya menjadi yang baik. Dalam kontek inilah saya ingin menyentuh pandangan dari seorang ulama besar yang lahir ditahun 540 H, di sebuah desa di tanah suci Palestina.

Imam besar ini dikenal dengan sebutan Ibnu Qudamah Al-Maqdisi. Beliau seorang imam ahli fiqih yang amat zuhud. Bahkan imam-imam besar lain dalam sejarah Islam itu memberikan predikat yang amat terhormat terhadap Ibnu Qudamah ini. Beliau digelari dengan sebutan Al-Imam Muwafaqatuddin.

Ibnu Taimiyah yang diberi gelar Syeikhul Islam, berkata bahwa Al- Imam Al- Muwafaq ini tidak ada orang di negeri Syam  yang lebih mapan di bidang fiqih, melebihi beliau. Ibnu Katsir juga melihat Ibnu Qudamah Al-Maqdisi ini sebagai seorang imam yang ‘alim, yang pandai. Tidak ada orang di zamannya dan juga di zaman sebelumnya dalam waktu yang berdekatan yang lebih faqih dari pada beliau.

Tetapi yang penting dalam tulisan ini, kelanjutan dari apa yang telah saya utarakan diawal tadi. Bahwa ada upaya pergeseran cara kita ber-Islam. Menggerus nilai-nilai keislaman sedikit demi sedikit. Dari sikap dan tindakan yang seharusnya bukan sekedar membuat diri kita sebagai seorang muslim yang baik, tetapi kita mampu memberi warna terhadap lingkungan kita.

Ada seorang murid dari Imam Ibnu Qudamah yang bertanya kepada beliau. Apa sih bedanya orang sholeh dengan seorang muslim? Apa bedanya antara orang baik tetapi dia tidak meminta orang lain menjadi baik? Beliau menjawab dengan sangat tegas. “Assalihu khairuhu linnafsi welmuslihu khairuhu linafsihi weli ghairi”. Terjemahan bebasnya begini “bedanya kalau orang yang sholeh itu memang melakukan kebaikan untuk dirinya, tetapi kalau seorang muslim, seorang penyeru kebaikan dia itu mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan juga sekaligus membawa mengajak orang lain ke jalan kebaikan itu”.

Bahkan lebih lanjut kata Ibnu Qudamah. “Assalihu Yuhibbuhunnas welmuslihu yu’dihinnas. Terjemahan bebasnya, ini resiko-resiko biasanya kita kesampingkan dalam kehidupan ini. Lebih cenderung mencari jalan yang aman dalam berintraksi dengan orang lain”.

Sehingga biarlah saya yang baik, orang lain itu urusan mereka. Karena dengan ungkapan tadi assalihu yuhibbuhunnas (orang yang sholeh itu dicintai manusia, tetapi orang yang menyeru kepada kebaikan itu cenderung dimusuhi oleh manusia lainnya).

Sehingga murid-muridnya bertanya kepada beliau, kenapa demikian? Beliau menjawab dengan sejarah masalalu. Alhabibul Mustafa SAW, kablal bi’sati ahabbahu kaumu, liannahu sholih (Rasulullah SAW, sebelum diutus sebagai Rasul, beliau dicintai oleh kaumnya karena memang beliau adalah orang yang baik). Welakin lamma ba’asahullahu ta’ala sara muslihan fa’aduhu wakalu sahirun kazzabun majnun (tetapi ketika Nabiyuyyah Muhammad SAW, mulai menyeru kepada kebaikan kaumnya langsung memusuhinya bahkan berbicara kaum-kaumnya itu engkau itu tukan sihir, engkau itu pendusta, engkau itu, orang gila).

Kemudian Ibnu Qudamah menambahkan lagi. Liannal musliha yestadimu bisakhratin ahwaa man yuridu ayyusliha bifasadihim (persoalannya adalah penyeru kebaikan itu memang menghantam batu besar nafsu angkara dan mencoba memperbaiki kerusakan itu).

Jadi kita melihat di dalam kehidupan sehari-hari, bahwa ada kecenderungan diantara kita untuk bermain aman dalam kehidupan ini. Sehingga kita menjadi seorang yang sholeh sendirian saja tidak memberi dampak agar orang lain menjadi orang yang sholeh. Karena memang antara kepentingan yang kita miliki sendiri. Karena seolah-olah dalam hidup ini aman bagi kita, untuk cukup menjadi orang sholeh dengan diri kita sendiri. Dan ini persoalan amat sangat tajam dan amat mendalam.

Bahkan inilah yang dikendaki oleh musuh-musuh Islam agar sikap seperti ini berkembang dan beredar. Sehingga tidak ada prinsip yang diamanatkan oleh Luqman kepada putranya, disejajarkan dengan ibadah sholat kita. Bahwa kita ini harus memerintah kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran-kemungkaran. Tetapi Luqman kelihatannya melihat kontek bahwa mencegah kemungkaran itu ada resiko-resikonya. Oleh karena itu dalam ayat itu dilanjutkan dengan perintah bersabar atas apa yang menimpamu.

Sebagai sebuah gambaran. Bahwa kalau kita mencoba berdakwah, mengajak orang lain berbuat baik ada resiko-resiko yang akan dihadapi. Dampak-dampak itu merupakan bagian yang harus kita sabari. Para ahli ilmu menyatakan dalam kontek ini, muslihun wahidun ahabbu ilallahi min alafissalihin (seorang penyeru kebaikan lebih dicintai Allah SWT, dari pada ribuan orang baik yang tidak menyeru kebaikan itu).

Loading...

Baca Juga