oleh

Berhaji di Negeri Sendiri. Opini Erni Misran

Berhaji di Negeri Sendiri. Oleh: Erni Misran, Anggota Mutiara Revowriter dan Komunitas Aktif Menulis.

Sebanyak 221.000 calon jamaah haji Indonesia tahun ini dirundung duka. Menteri Agama Fachrul Razi telah mengumumkan perihal batalnya keberangkatan jamaah haji Indonesia ke tanah suci pada Selasa, 2 Juni lalu. Mereka harus menerima keputusan pemerintah yang menyesakkan dada.

Tak hanya sebatas itu, beredarnya kabar tentang rencana penggunaan dana haji 2020 sebesar Rp 135 triliun untuk memperkuat nilai tukar rupiah, semakin menambah kekalutan jamaah. Syukurnya berita itu segera diklarifikasi oleh Ketua Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) yang menjamin bahwa uang calon jemaah haji aman. Ia menegaskan bahwa BPKH hanya mengelola dana calon jemaah untuk hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan haji.

Pemerintah pun kemudian mengeluarkan tatacara pengembalian setoran pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BIPIH) 2020 bagi yang menginginkannya. Meskipun dirundung sedih dan kecewa, para calon jamaah haji dapat menerima kenyataan bahwa mereka batal mengunjungi Baitullah di tahun ini.

Pemerintah Arab Saudi kemudian mengumumkan bahwa ibadah haji tahun 1441 H/2020 M ini akan dilaksanakan terbatas. Sekitar 1.000 orang saja yang beruntung memperoleh kesempatan untuk menunaikan rukun Islam kelima tersebut. Lalu bagaimana dengan kita, terutama mereka yang namanya telah masuk dalam daftar calon jamaah haji tahun ini?

Masya Allah, ternyata kita semua berkesempatan untuk meraih haji mabrur sekalipun secara fisik tidak hadir di tanah suci. Ya, kita semua! Ternyata kita bisa berhaji di negeri kita sendiri. Bagaimana caranya?

Marilah kita bercermin diri dari kisah yang dinukil dan disadur dari kitab Tadhkiratul al-Auliya karangan Fariduddin Attar, yang diterjemahkan oleh A. J. Arberry dalam Muslim Saints and Mistics: Episode from Tadhkiratul al-Auliya, 2000 (https://mojok.co/irf/esai/600-ribu-orang-naik-haji-hanya-satu-yang-diterima/).

Baca Juga :  Danpusterad Resmikan Masjid Al-Ikhlas, Santuni Anak Yatim

Kisah ini diawali dengan mimpi seorang tabiin bernama Abdullah bin Mubarak yang baru saja selesai menunaikan ibada haji. Beliau adalah ulama zuhud yang tersohor pada masa Bani Abbasiyah. Dalam tidurnya di Masjidil Haram, Abdullah mendengar percakapan dua malaikat bahwa dari 600.000 orang jamaah yang mengerjakan haji tahun itu, tak satu pun ibadah mereka yang diterima oleh Allah SWT. Padahal mereka datang dari berbagai penjuru dunia dengan berbagai cara, namun ibadah mereka sia-sia. Malah sebaliknya, Allah berkenan memberikan pahala haji mabrur bagi seorang hamba yang fakir yang bahkan batal berkunjung ke tanah suci. Oleh karenanya, Allah yang Rahim kemudian berkenan menerima ibadah haji seluruh muslimin pada tahun itu.

Hamba yang fakir tersebut ternyata adalah Muwaffaq, atau dalam kisah lain disebut bernama Ali bin Muwaffaq. Abdullah pun penasaran, apa gerangan yang dilakukan oleh sang tukang sepatu dari Dasmaskus, Suriah itu. Abdullah pun bergegas mengunjunginya.

Muwaffaq ternyata telah memendam kerinduan untuk mengunjungi Baitullah sejak lama. Tiga puluh tahun ia giat menabung guna mempersiapkan bekal agar dapat berjalan dalam barisan tamu Allah. Namun rindu itu kemudian hanya disimpannya di dalam hati manakala pada suatu hari harum masakan tetangga di depan rumahnya telah menuntun langkahnya ke rumah itu. Ia mendapati sang tetangga tengah menyantap bangkai keledai bersama ketiga anaknya yang yatim. Wanita renta itu bertutur bahwa ia tidak mempunyai pilihan karena mereka telah menahan lapar selama tiga hari.

Baca Juga :  Kami Ingin Syariat Islam, Kami Inginkan Negara Diatur Dengan Hukum Allah SWT

Hati Muwaffaq pun perih teriris, mendengar jawaban miris tetangganya disertai mata yang gerimis. Ia bergegas pulang dan bersepakat dengan istrinya untuk menyerahkan semua simpanan bekal hajinya untuk tetangga yang dhuafa dan yatim itu. Ia mengikhlaskan tiga ratus dirham dan menggantungkan semuanya hanya kepada Allah. Ia pun menanggalkan rasa egonya untuk tetap pergi berhaji dan lebih memilih untuk mementingkan tetangganya

Kisah ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah memberi ganjaran sesuai dengan apa yang diniatkan seseorang. Sekalipun tidak menjejakkan kaki ke Baitullah, namun karena perbuatannya yang lillah, maka Allah mengganjarnya dengan pahala berlimpah. Pengorbanan Muwaffaq yang luar biasa bahkan telah membuahkan keberkahan, sebab yang lain pun turut menikmati ganjaran pahala haji mabrur.

Berhaji di depan rumah, itulah yang telah dilakukan oleh Muwaffaq. Pada masa pandemi Covid-19 ini, maka kita pun dapat berhaji di negeri sendiri. Ikhlas dan ridha dengan ketentuan Allah, merupakan kunci datangnya keberkahan dariNya. Pandanglah ini sebagai cara Allah agar kita lebih bersiap diri lagi untuk menata bekal fisik, mental, dan ilmu agama kita. Jika masih diberi kesempatan, insya Allah tahun depan ibadah haji dapat dilaksanakan. Kalaupun sekiranya batas usia telah sampai, yakinlah bahwa Allah tidak lalai. Niat mulia ini sudah dicatat sebagai satu kebaikan.

Lebih jauh lagi, kisah ini mengingatkan kita untuk senantiasa memperhatikan tetangga kita. Kita belum dikatakan beriman jika kita dalam keadaan kenyang semalaman, sedangkan tetangga kita mengetahui bahwa mereka kelaparan (H.R. At-Thabrani). Rasullullah pun mengajarkan kita untuk memperbanyak kuah saat memasak sayur, dan agar dapat berbagi kebahagiaan dengan tetangga (H. R. Muslim).

Baca Juga :  Peran Media Dalam Negara Khilafah. Opini Siti Rima Sarinah

Pesan lain dari kisah Muwaffaq adalah agar kita menyantuni anak yatim dan fakir miskin. Pandemi yang berkepanjangan ini telah menyebabkan banyak saudara kita yang berkurang pendapatan bahkan kehilangan pekerjaan. Saatnya bagi kita untuk meningkatkan keshalihan sosial untuk menguraikan masalah komunal.

Saatnya pula bagi kita untuk tidak sekadar menganggap pelaksanaan haji sebagai ibadah yang hanya bersifat show di zaman now ini. Jangan sampai pergi haji berkali-kali hanya sekadar untuk pamer atau mengejar status semata. Biaya perjalanan haji yang besar -juga umrah- dapat pula digunakan untuk untuk dinafkahkan pada jalan Allah.

Selain itu, ada pula amalan lainnya yang diberi Allah ganjaran pahala yang setara dengan melaksanakan ibadah haji. Amalan tersebut diantaranya adalah mengerjakan shalat wajib lima waktu berjama’ah di masjid dalam keadaan bersuci dari rumah; melaksanakan shalat isyraq yaitu shalat shubuh secara berjama’ah di masjid lalu berdiam sambil berdzikir hingga matahari terbit melaksanakan shalat dhuha; menghadiri majelis ilmu di masjid, baik untuk mengajar maupun untuk belajar; bedzikir mengucapkan subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar sampai tiga puluh tiga kali; dan berbakti kepada orang tua (https://rumaysho.com/14300-7-amalan- berpahala-haji.html).

Bagi saudaraku yang batal berkunjung ke tanah suci, juga yang belum dan tidak pergi di tahun ini, mari kita berhaji di negeri sendiri. Keikhlasan hati dan kejernihan nurani dalam melaksanakan bakti pada Ilahi niscaya akan memperteguh iman diri ini. Wallahu ‘alam.

Loading...

Baca Juga