oleh

Logika Agama, Korelasi Antara Nasib Dengan Takdir

Logika Agama, Korelasi Antara Nasib Dengan Takdir. Oleh: SubairiMahasiswa Doktoral Universitas Muhammadiyah Parepare.

Banyak orang yang mempertanyakan apa sih korelasinya antara nasib dengan takdir? Kita ketahui bersama bahwa persoalan ini, biasa terjadi perdebatan yang sangat alot. Sangat susah untuk membedakan antara nasib dengan takdir.

Kita bisa memilih takdir, tetapi kita tidak bisa keluar dari takdir. Semua ada ukurannya. Siapa yang menentukan batas ukuran? Jawabanya Allah SWT. Siapa yang memilih ukuran jawabannya kita semua? Saya memilih yang ini, atau yang itu, semua apa yang kita pilih itulah yang namanya nasib.

Jadi takdir itu belum jelas. Tetapi begitu anda pilih nasib saya seperti ini, nasib saya dapat untung sekian karena ada usaha, boleh jadi nasib dia meninggal dunia, padahal sesungguhnya ada takdir yang lain. Mungkin saya hanya dapat memberikan suatu pemisalan yang bisa dijadikan sebagai dasar untuk memahami perbedaan nasib dengan takdir.

Takdir, contohnya saya mempunyai dua buah mobil, mobil balap dan mobil rongsokan. Yang mobil balap bisa lari kencang kira-kira sampai 200 km per jam, sedangkan mobil yang rongsokan biasanya larinya hanya 70 km per jam. Ini namanya takdirnya yang ditetapkan oleh pabrik, menyangkut mobil balap 200 km per jam. Sedangkan takdirnya mobil rongsokan ini 70 km per jam, ada ukurannya yang dalam bahasa agamanya disebut dengan takdir.

Baca Juga :  Logika Agama Revolusi Mental, Semakin Pintar Semakin Kurang Ajar

Sayyidina Umar pernah mau keluar kota, dia mendapatkan berita bahwa di kota itu ada wabah. Akhirnya Sayyidina Umar membatalkan keberangkatannya ke kota tersebut. Lalu ada sahabat yang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, apakah kamu lari dari takdir Tuhan?” Sayyidina Umar menjawab, “Iya, saya lari dari takdirnya menuju takdir yang lain”. Berarti dapat kita menarik suatu benang merah dari kisah tersebut diatas bahwa kita bisa memilih takdir atau tidak? Jawabanya bisa.

Sayyidina Ali juga pernah bersandar ditembok, lalu ada yang memberi tahu bahwa tembok itu sudah rapuh. “Kalau begitu,” kata Sayyidina Ali, “saya pindah”. Lalu ada sahabat yang bertanya. “Apakah engkau lari dari takdir Tuhan?”. Sayyidina Ali menjawab, “Iya, sebab kalau saya disini, takdirnya tembok akan jatuh. Sementara kalau disana, saya tidak akan terkena reruntuhan tembok itu”.

Baca Juga :  DEMA Institut Agama Islam As-Adiyah Gelar Seminar Nasional
Sekarang kembali kita bertanya bisa pilih takdir atau tidak? Kembali kita menjawab, bisa. Itulah takdir semua sudah ada ukurannya.

Nah sekarang saya mau keluar rumah, memakai mobil yang rongsokan. Apa yang menentukan kecepatan mobil saya itu? Pasti injakan gasnya. Kalau saya injak gas berlahan dia hanya berjalan 10 km. Baik itu mobil rongsokan maupun mobil balap. Kalau saya tekan gasnya sekuat mungkin yang mobil rongsokan tidak bisa lebih dari 70 km per jam, sementara yang mobil balap juga hanya bisa 200 km per jam. Pertanyaannya sekarang, yang menentukan lajunya mobil itu siapa? Maka jawabannya, saya. Tetapi saya tidak bisa melewati dari ketentuan tersebut.

Baca Juga :  Logika Agama, Apakah Perang Dalam Islam Hanya Diizinkan Untuk Membela Diri?

Pengetahuan Allah atau pengetahuan manusia tidak ada korelasi atau kaitannya dengan semua kejadian yang terjadi. Saya ingin memberikan sebuah narasi singkat berkaitan dengan hal tersebut. Kalau ada kulit pisang di lantai. Saya tahu kalau ada orang yang menginjak kulit pisang itu, dia pasti tergelincir dan jatuh. Apakah pengetahuan saya itu yang menjadikan dia tergelincir? Tentu tidak, Allah tahu kalau orang ini, begini jadinya begini. Tetapi Allah SWT tidak mengintervensi (mencampuri) dalam hal itu.

Saya misalkan sebagai seorang pendidik atau guru sudah mengetahui kondisi murid-murid yang bakal lulus dan yang tidak bakal lulus. Pertanyaannya yang muncul kemudian, apakah saya yang menjadikan dia tidak lulus? Saya tahu bahwa dia malas dan dia tidak belajar. Yang salah tentunya pasti bukan saya, tapi dia yang tidak mau belajar. Itulah yang dimaksud semua Allah SWT ketahui itu namanya kadha Allah. Punya pengetahuan menyangkut segala sesuatu.

Loading...

Baca Juga