oleh

Forum Indonesia Satu: Jangan Politisasi Umat Islam Dengan Bela Tauhid

SUARAKEADLIAN – Aktivis Forum Indonesia Satu (FSI), Arief Iksan meminta umat islam jangan dipolitisir dengan Aksi Bela Tauhid. Masalah pembakaran bendera tauhid ini sebaiknya diserahkan pada aparat hukum, dan jangan terpengaruh dengan isu yang menyesatkan.

Pernyataan sikap ormas pemuda islam ini disampaikan di Markas GPI Menteng 58, Jakarta, Kamis malam (01/11/18). Hadir dalam pernyataan sikap ini Zulham Arif dari Gerakan Pemuda Islam (GPI), Khoirul Amin mewakili Gerakan Perubahan Indonesia (GPI), Rahmat Himran Ketua Forum Umat Islam Bersatu (FUIB), Raja Agung Nusantara dari Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI), Rahmat Pakaya dari Jaringan Aliansi Nasional (JARNAS) dan Arief Iksan dari Forum Indonesia Satu (FIS).

Ormas-ormas pemuda islam ini mengutuk keras pembakaran bendera tauhid yang terjadi di Garut beberapa waktu yang lalu pada acara hari Santri Nasional. Kepolisian harus dengan tegas untuk segera memproses hukum pelaku pembakaran bendera tauhid.

Ketua Forum Indonesia Satu Arif Ikhsan dalam pernyataannya mengingatkan kepada umat islam untuk membiarkan aparat kepolisian yang bekerja. Dan umat islam jangan terpengaruh isu yang bisa menyesatkan dan provokatif yang dapat mempengaruhi umat dan mengadu domba umat. Permasalahan pembakaran bendera sebaiknya dipercayakan kepada aparat penegak hukum.

“Ini jangan dipolitisir jadi politik identitas antar umat islam, kami tidak mau terjadi seperti di timur tengah. Karena dipolitisir menjadi pemecah belah, kita harus tegakkan hukum.” 

Raja Agung Nusantara Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Republik Indonesia (GMPRI) meminta kepolisian untuk bertindak tegas kepada pelaku pembakaran bendera tauhid. Karena masalah ini sudah mendapat kecaman dari luar negeri dan ini menjadi masalah besar bagi bangsa Indonesia.

“Pembakar bendera tauhid harus ditindak tegas demi kenyamanan berbangsa dan bernegara, yang membakar bendera adalah penista agama.”

Khoirul Amin berharap ketegasan dari pihak kepolisian dalam kasus pembakaran bendera tauhid ini. Ketegasan polisi dirasa Amin akan mampu meredam semua isu agar tidak berkembang lebih jauh, terlebih jika dipelintir ke arah politik.

“Polisi harus dengan tegas untuk segera lakukan proses hukum. Kalau itu sudah ditersangkakan, kemudian pasalnya sudah terapkan dan kalau memungkinkan untuk ditahan, segera tahan. Karena itulah yang kemudian menjadi barometer bagi umat Islam. Bahwa polisi sudah bekerja dengan baik.”

Sementara itu, Rahmat Himran, Ketua FUIB melihat perkembangan insiden pembakaran bendera yang terjadi sudah mengarah ke ranah poltik. Hal ini terjadi karena ada di tahun politik ini, masalah yang seharusnya diselesaikan secara hukum dapat bergeser karena kepentingan tertentu.

“Kami melihat politisi Indonesia membawa kasus ini menjadi persoalan politik. Seharusnya masalah ini larinya kearah proses hukum. Tapi yang kita lihat saat ini adalah ada oknum-oknum politik yang menunggangi isu ini menjadi isu politik,” jelas Himran.

Hal senada disampaikan Rahmat Pakaya dari Jaringan Aliansi Nasional, yang menyatakan pihaknya secara tegas menganggap kasus pembakaran bendera itu adalah ranah hukum. Rahmat berpendapat biarkan proses hukum berjalan dan tidak dipolitisir oleh kepentingan politik Pilpres 2019.

“Jangan masalah ini dijadikan alat adu domba sesama anak bangsa terutama umat Islam. Kami tida mau Indonesia menjadi seperti Timur Tengah. Jangan jadikan masalah ini menjadi isu untuk memecah belah”, tegas Rahmat.

Mewakili pimpinan GPI, Zulham Arif mengutuk keras pembakaran bendera bertuliskan tauhid yang dilakukan di Garut beberapa hari yang lalu pada acara hari Santri Nasional. Hal ini mengingat bahwa simbol kalimat tauhid merupakan simbol umat Islam didunia, maka inimenjadi persoalan didunia, bukan hanya persoalan Indonesia.

“Atas nama Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam, kami berharap bahwa proses hukum yang telah dilakukan oleh pihak kepolisian, kemudian dipertegas, untuk memenuhi rasa keadlian umat Islam,” kata Zulham. (OSY)

Loading...

Baca Juga