oleh

Logika Agama Kepemimpinan dan Konflik Dalam Sejarah Islam

Logika Agama Kepemimpinan dan Konflik Dalam Sejarah Islam. Oleh: SubairiPimpinan Pondok Pesantren Al-Mukhlisin DDI Paria.

Umar Bin Khattab pernah mengemas dalam sebuah pesan moral tentang kepemimpinan yang sering dianggap sebagai sabda Nabi Muhammad SAW. Tetapi menurut penelitian ini adalah pidato Umar Bin Khattab yang tentunya pasti merujuk kepada pesan-pesan moral Rasulullah SAW.

Beliau berkata, “Islam tidak akan tegak tanpa adanya komunitas muslim. Dan komunitas muslim tidak ada artinya tanpa ada imam atau pemimpin. Dan para pemimpin itu pun tidak berarti kalau tidak ada kepatuhan dari ummat yang dipimpinnya. Dan kepatuhan itu baru akan ada apabila ada dukungan dan persetujuan dari rakyat yang dipimpinnya”.

Sungguh indah Umar Bin Khattab menyampaikan pesan ini. Pesan ini amat baik untuk kita renungkan dalam kehidupan kita. Issu pertama yang muncul di kalangan ummat Islam, setelah Rasulullah SAW, meninggal dunia adalah masalah kepemimpinan. Tetapi kita pun tidak boleh lupa bahwa issu pertama yang menyebabkan ummat Islam bertengkar dan berpecah belah, adalah issu menyangkut kepemimpinan.

Baca Juga :  Logika Agama Allah Itu Dekat Atau Jauh?

Kalau kita membaca sejarah tentang perang Siffin, perang Jamal atau perang Unta, kemudian juga Qarbala. Semua itu issunya adalah menyangkut perbedaan tentang pilihan pemimpin. Kita mendapatkan informasi dalam sejarah Islam sampai sekarang. Issu kepemimpinan sering menjadi potensi untuk konflik di kalangan ummat Islam sendiri.

Memang betul dalam sejarah, Islam terjadi perbedaan pendapat dalam persoalan fiqih, terutama dalam masalah furu’. Tetapi tidak sampai melahirkan sebuah pertengkaran yang berat. Apalagi melahirkan sebuah perang seperti issu menyangkut masalah kepemimpinan.

Pada tahun 632 M Rasulullah SAW, wafat. Sebelum jenazahnya beliau dikuburkan, para shabat sudah disibukkan untuk memilih pemimpin. Itulah kemudian dikenal dengan peristiwa Staqifah, yaitu peristiwa terpilihnya Abu Bakar As-Siddiq, menjadi khalifah yang pertama pengganti Rasulullah SAW, untuk memimpin ummat pada waktu itu.

Baca Juga :  Surga Para Koruptor di Bawah Telapak Kaki Cina, Sebuah Opini Miftah H. Yusufpati

Kenapa para sahabat pada waktu itu segera memilih pemimpin padahal jenazah Rasulullah pun belum dikuburkan? Tentu jawabannya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu. Para shabat adalah orang-orang yang sholeh, pasti itu adalah merupakan pilihan yang terbaik menurut mereka. Kita temukan sebuah pesan Rasulullah SAW, yang pasti ini juga didengar dan diperhatikan serta diamalkan oleh para shabat.

Beliau menyatakan, “Apabila ada tiga orang dalam perjalanan yang jauh, tidak halal perjalanan seorang mukmin diantara mereka sampai salah seorang diantaranya diangkat menjadi pemimpin”. Bahkan ada sejumlah hadist terutama, yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dalam kitab Al-Mustadrak. Hadist ini menceritakan tentang ajaran-ajaran dan pesan-pesan moral Rasulullah SAW. Bahwa ummat Islam perlu dan wajib mempunyai pemimpin.

Baca Juga :  Logika Agama Berlindung Atas Dua Permohonan Iblis Yang Dikabulkan

Rasulullah SAW, pernah berbincang-bincang dengan shabatnya yang bernama Abu Zar Al-Gifari. Beliau adalah shabat yang tidak pernah muncul menjadi pemimpin tetapi pasti dia adalah orang yang sholeh. Rasulullah SAW, berkata kepada Abu Zar Al-Gifari, “Wahai Abu Zar, anda ini adalah termasuk orang yang lemah. Ingat, jabatan dan kepemimpinan itu adalah merupakan amanah dari Allah SWT. Dan setiap amanah berupa jabatan atau kedudukan akan melahirkan penyesalan dan kesedihan, kecuali bagi mereka yang mengambilnya dengan cara yang baik dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik”.

Semoga pemimpin kita dapat mengambil ibrah atau pelajaran dari hasil dialog Rasulullah SAW, bersama dengan Abu Zar Al-Gifari ini. Sehingga menjadi pemimpin yang amanah dalam menjalankan tugasnya.

Loading...

Baca Juga