oleh

New Normal Dinilai Gagal? Dalih Pemerintah Tampak Abnormal

New Normal Dinilai Gagal? Dalih Pemerintah Tampak Abnormal. Oleh: Widya Astorina, S.Kom. M.Pd, Praktisi Pendidikan.

Belum usai problematika pelonggaran PSBB yang berganti menjadi kebijakan New normal di masa pandemic ini, peningkatan kasus positif Covid-19 menjadi pertanyaan besar yang mengganjal dibenak masyarakat serta perbincangan public diberbagai bidang. Apakah kebijakan new normal ini tepat diterapkan? Mengingat data statistik Covid-19 masih terus meningkat.

Tercatat kenaikan secara konsisten lebih dari 1.000 kasus positif Covid-19 per-harinya sejak kebijakan New normal diberlakukan. Bagaimana tidak, kebanyakan masyarakat yang minim edukasi mengenai kebijakan New normal, menganggap bahwa kebijakan tersebut berarti kembali kepada kehidupan normal sebelum adanya pandemi.

Kebijakan New normal ini dimulai dengan pembukaan sembilan sektor ekonomi yang diharapkan dapat memperbaiki stabilitas ekonomi negara. Sejalan dengan hal itu, Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Hermawan Saputra menuturkan sikap gegabah pemerintah akan kebijakan membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan AKB. “inilah risiko pembukaan sektor-sektor tersebut, kita sekarang mengalami kenaikan kasus secara konsisten di atas 1.000 per hari. Lonjakan ini terjadi di berbagai wilayah seperti Jawa Timur dan Jawa Tengah yang cukup signifikan” (Bisnis.com, Jakarta,21/6/2020).

Baca Juga :  Ketua PWNU Banten: Banten Siap Gelar Muktamar NU ke-34 Tahun 2020

Senada dengan Hermawan, dr. Iwan Ariawan menyampaikan semakin masifnya peningkatan paparan Covid-19 menunjukkan penerapan New normal beresiko tinggi bagi keselamatan rakyat. Semestinya keselamatan rakyat lebih penting dari pembukaan ekonomi (CNN Indonesia, 22/6/2020).

Penelitian dan Analisa dari para ahli, sungguh kontradiktif dengan apa yang disampaikan pemerintah. “penambahan ini sangat signifikan di beberapa daerah karena kontak tracing dari kasus konfirmasi positif yang kami rawat lebih agresif dilaksanakan dinas Kesehatan di daerah” kata Yurianto dalam keterangannya di Graha BNPB (Jakarta, 20/6/2020). Ini menunjukkan bahwa apa yang disampaikan Yurianto menepis pendapat dari para ahli. Ia menyatakan bahwa peningkatan ini tidak ada hubungannya dengan New normal.

Baca Juga :  Polarisasi Menurunkan Intensitas Kontroversi Bid'ah

Sebenarnya, dengan membuka beberapa sektor ekonomi bukan jaminan geliat ekonomi pulih dengan segera. Perekonomian Indonesia justru akan sulit berjalan jika wabah belum diatasi. Karena Kesehatan rakyat perlu diperkuat terlebih dahulu. Artinya, pemerintah seharusnya memikirkan Kesehatan masyarakat terlebih dahulu dibandingkan ekonomi.

Kebijakan gegabah dari pemerintah ini seperti berjalan di atas roda api. Dari sisi manapun akan tetap berbuah masalah. Karena kebijakan demi kebijakan yang diambil adalah kebijakan kapitalistik, tidak mengutamakan sisi kemanusiaan. Sehingga Covid-19 akan senantiasa menjadi api di setiap pijakan roda tersebut.

Negara sejatinya adalah pelindung dan penjamin bagi kesejahteraan rakyatnya. Termasuk di masa pandemi ini. Jika tujuan pemerintah adalah mengetahui secara massif paparan Covid-19 masyarakat Indonesia, mestinya berbagai macam tes dilaksanakan secara masif pula kerumah-rumah masyarakat secara menyeluruh. Sehingga dapat diketahui secara pasti siapa yang terpapar Covid-19 dan siapa yang tidak. Dengan demikian mereka yang tidak terpapar dapat dengan tenang berada di luar rumah dan melaksanakan aktivitas seperti biasa. Secara otomatis kondisi ekonomi akan membaik.

Baca Juga :  Kasus Corona Meningkat, Apa Ini New Normal? Opini Yuyu Yunengsih

Sekali lagi, kegegabahan pemerintah telah gagal dalam mengambil kebijakan dan mengatasi persoalan ini. Sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang memutuskan segala perkara atas dasar aturan Allah SWT. Hanya dengan berpegang teguh pada aturan-Nya, maka segala persoalan akan selesai dengan baik.

Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an yang artinya :
“Hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka dengan wahyu yang telah Allah turunkan dan janganlah engkau mengukuti hawa nafsu mereka. Waspadalah engkau terhadap fitnah mereka yang hendak memalingkan engkau dari Sebagian wahyu yang telah Allah turunkan kepadamu ” (QS. Al-Maidah : 49)

Dengan demikian, hanya sistem Islamlah yang secara paripurna mengatur segala bidang dalam kehidupan. Tidak ada keraguan atasnya. Karena Islam merupakan ideologi dan agama Rahmatan lil Alamin.
Wallaahua’lam bishshawaab…

Loading...

Baca Juga