oleh

Islam di Negeri Kasino, Catatan Dakwah di Hongkong dan Macau

Islam di Negeri Kasino, Catatan Dakwah di Hongkong dan Macau. Oleh: Kyai Sukron Makmun, Dai Ambassador Dompet Dhuafa untuk Hongkong dan Macau, Wakil Ketua PWNU Banten.

“Do not judge a book by its cover”. Begitulah kata orang bule. Kita akan naif jika melihat sesuatu hanya dari bungkusnya. Dalam kaidah Ushul-fiqh juga ada redaksi yang mirip, “al-Ibratu bil Jawahir, la bil Mazahir (yang penting subtansi, bukan simbol/ bungkusnya)”. Itulah kenapa saya perlu sampaikan sisi lain yang mungkin tidak banyak diketahui oleh khalayak, sebelum mereka datang, melihat dengan mata kepala sendiri.

Macau yang terkenal sebagi pusat judi, atau Las Vegasnya Asia, cenderung terdengar negatif. Atau mungkin ada yang apriori dengan negeri ini. Saya bukan Goodwill Ambassadornya Macau. Saya hanya ingin berbagi cerita, semoga kita dapat mengambil mana yang baik, tinggalkan buruknya. Seperti perintah Tuhan kepada Musa a.s yang diabadikan dalam kitab suci-Nya, “perintahkan kepada kaum mu (wahai Musa) untuk mengambil yang baik (nya saja)”.

Inilah cerita tentang nilai-nilai baik yang ada di sini. Ketika saya keluar dari apartemen tempat saya tinggal, maka saya mendapatkan banyak nilai-nilai kebaikan yang menurut saya sangat Islami. Atau sebut saja kebaikan universal. Beberapa hal yang belum banyak dijumpai secara masif di tanah air. Bayangkan, setiap tangga/ koridor tertulis, agar tidak “nyampah” (no littering). Dan sepanjang tangga itu memang tidak ada sampah.

Sampai di jalan raya, saya lebih kagum lagi, karena mereka akan memberi prioritas pada pejalan kaki. Para pengguna jalan saling menghormati satu sama lain. Jika ada lampu merah (traffic light) mereka tunggu lampu sampai hijau menyala, tidak ada yang ‘nyelonong’.

Jika di perempatan tidak ada lampu merahnya, maka siapapun boleh lewat garis zebra cross tanpa ragu. Mobil, motor dan kendaraan jenis apapun akan mengalah mendahulukan Anda dan penyebrang lainnya. Tidak ada yang berani “nerobos” dengan alasan buru-buru. Tidak ada anak di bawah umur yang berkendara. Tidak ada yang ugal-ugalan. Tidak ada polusi suara.

Selama hampir seminggu di sini, saya belum melihat orang bertengkar atau bersuara keras. Semuanya sibuk dengan urusannya, sehingga tidak ada waktu untuk “kepoin” orang lain.

Kota ini 24/7 hidup, tak pernah mati. City that never sleeps. Saya boleh keluar kapan saja, tanpa takut “direcokin” atau tindak pidana (kriminal) yang lain. Saya tiap hari keluar jam 23:00 dan pulang jam 01:00 dini hari. Pernah jalan jam 3-an pagi. Seperti tidak ada bedanya antara malam dan siang. Selalu ramai. Ramai tapi senyap, senyap tapi ramai. Yang terpenting adalah rasa aman dan nyaman.

Kabar baiknya lagi, mereka membolehkan para pekerja migran Indonesia (baca: PMI) untuk tinggal di luar, tidak ikut bos. Mereka boleh kost di luar, sehingga lebih bebas, tidak merasa terpenjara. Pada saat yang sama para PMI kita dapat mengekspresikan nilai-nilai kepercayaan dan nilai-nilai keindonesiaannya dengan leluasa. Mulai dari cara berpakaian sampai menjalankan ibadah.

Kelonggaran seperti inilah yang membuat mereka lebih betah ketimbang PMI di tempat lain. Tapi suasana seperti ini, jika tidak disikapi dengan arif, justru akan menjadikan PMI terlena, terjebak di zona nyaman. Hidup dalam mimpi, bak hidup di negeri dongeng. Tanpa target waktu. Mereka lupa pulang. Lupa bahwa mereka harus berkiprah di tanah air, menularkan pengalaman baiknya pada tetangga dan masyarakatnya. Kapan harus membina rumah tangga, kumpul keluarga besar. Yang lebih penting lagi adalah menjalankan fungsi utama mereka sebagai ‘madrasah pertama’ bagi anak-anaknya sendiri? Hidup bukan hanya tentang “me”, but how about “us”? [TMS]

Loading...

Baca Juga