oleh

Efektifkan Pembelajaran Daring Ditengah Hiruk Pikuk Pandemi Covid-19?

Efektifkan Pembelajaran Daring Ditengah Hiruk Pikuk Pandemi Covid-19? Oleh: Ratna Novitasari, Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Coranvirus disease 19 atau khalayak manusia menyebutnya Covid-19 merupakan virus baru yang tidak hanya menyerang di satu negeri saja tetapi seluruh dunia merasakannya. Virus ini disebabkan oleh Sars-Cov-2, seluruh penduduk bumi kelabakan untuk menghilangkannya.Segala bentuk usaha dan upaya sudah dilakukan oleh pemerintah dan rakyat untuk mencegah dan melindungi diri dari virus sudah menyebar di seluruh penjuru dunia.

Jumlah pasien positif di Indonesia kian bertambah, data yang dihasilkan pada tanggal 27 juni 2020 terdapat 52.812 pasien dengan kenaikan jumlah 1.385 pasien baru di Indonesia (Kemenkes RI). Hal tersebut memberikan arti bahwa negeri ini belum aman dari Covid-19. Corona virus memberikan dampak pada seluruh sektor kehidupan, tidak hanya memberikan dampak pada sektor kesehatan dan sektor perekonomian, melainkan pula sangat berpengaruh pada sektor pendidikan.

Adanya pandemi Covid-19 kemendikbud memutuskan untuk membuat sebuah kebijakan baru, dimana semua jenjang sekolah diupayakan untuk belajar dirumah sampai awal tahun ajaran baru 2020/2021. Namun, sayangnya tidak semua kegiatan belajar mengajar secara daring (dalam jaringan) terlaksana dengan baik dan efektif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor internal dan faktor eksternal yang menjadikan pembelajaran belum terlaksana dengan baik.

Baca Juga :  Rohingya, Etnis Muslim Yang Hampir Tenggelam Dibawah Pedang Ketidakadilan HAM!

Faktor internal tersebut bersumber dari individu atau peserta didik, mereka merasa jenuh dengan adanya pembelajaran daring. Hal tersebut di sebabkan karena guru tidak menjelaskanya materi yang sedang dipelajari dan memberikan tugas dan soal-soal latihan, namun tidak disertai dengan adanya penjelasan terlebih dahulu, sehingga hal tersebut menjadi sebab kurangnya motivasi siswa dalam belajar. Alasan lainnya yaitu kendala yang bersumber dari guru, karena tidak semua guru melek teknologi terlebih untuk guru yang sudah tua.

Perihal mengoperasikan alat digital saja mereka harus masih di bantu oleh anak ataupun saudaranya. Hal ini pun menjadi kendala dalam pembelajaran daring, sehingga kebanyakan guru berpikir untuk memberi tugas tanpa di sertai penjelasan yang memadai. Lain halnya untuk guru yang melek teknologi, dalam melakukan pembelajaran daring untuk menyampaikan setiap materi dapat di lakukan dengan cara video call, namun kembali lagi pada respon siswa terutama siswa MI/SD pada kelas rendah yang malah tidak mau belajar melalui video call karena mereka belum mengerti situasi yang di hadapi saat ini sehingga mereka berfikir tidak mau belajar jika lewat video call. Oleh karena itu, siswa lebih cenderung sering membuka handphone, namun bukan untuk belajar melainkan menjadi sering bermain game.

Baca Juga :  Manuver Murahan, Sebuah Opini Rizal Fadillah

Selain itu, tidak seluruh siswa yang mempunyai jaringan yang stabil dan tidak seluruh siswa mempunyai alat komunikasi dan kuota yang memadai yang menjadi sumber utama terlaksananya pembelajaran daring. Faktor tersebut bukan hanya menjadi sebuah keresahan bagi guru dan siswa, melainkan juga pada orangtua. Alat komunikasi sangat dibutuhkan pada kondisi saat ini, menekan orangtua untuk memenuhi kebutuhan belajar anaknya. Hal tersebut tentu menjadi pertimbangan berat bagi orangtua siswa yang kategori ekonomi nya cenderung menengah kebawah, terlebih pada orangtua yang di PHK akibat dampak Covid-19. Masalah tersebut menjadi tugas besar bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran agar dapat terlaksana dengan baik.

Solusi yang mungkin dapat meminimalisir hal tersebut yaitu guru dapat membuat sebuah video penjelasan mengenai materi yang akan diajarkan dengan dibantu dengan sebuah media belajar yang menarik lalu di upload pada media sosial seperti youtube, instagram atau bisa melalui aplikasi pembelajaran seperti google classroom, zoom, googlemeet, atau aplikasi pembelajaran lainya. Tentu saja hal tersebut perlu adanya bimbingan dari orangtua agar belajar dapat terlaksana dengan baik agar siswa tidak merasa jenuh dalam belajar. Selain hal tersebut, guru dapat melakukan home visit dengan mendatangi siswa yang dirasa tidak memungkinkan mengikuti pembelajaran daring (dalam jaringan) seperti siswa yang tidak memiliki alat komunikasi, dengan demikian siswa yang terhambat dalam proses pembelajarannya akan dibimbing dan diberikan pembelajaran yang belum tercapai. Sehingga siswa tetap belajar walaupun ada hambatan.

Baca Juga :  Hilda Basalamah Kecewa Datangi Acara Ijtima Ulama IV

Dalam melaksanakan kegiatan home visit, tentunya tetap memperhatikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan. Pada intinya dalam situasi dan kondisi pandemi Covid-19, harus adanya kerjasama antara orangtua dan guru dalam hal memberikan pengertian, andil dalam mengatur waktu belajar siswa di rumah, membatasi siswa dalam mengggunakan handphone juga kerjasama dalam menumbuhkan karakter siswa sebagai anggota keluarga, pelajar, dan warga negara agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik dan tetap bermakna, serta harapan orangtua dan guru untuk output siswa dalam satu semester bahkan dua semester dapat mendapatkan hasil yang terbaik.

Loading...

Baca Juga